ADVERTISEMENT
KORANMANDALA.COM – Fenomena tutupnya sejumlah rute penerbangan di Bandara Husein Sastranegara, Kota Bandung belakangan ini dinilai sebagai sinyal kuat bagi pemerintah untuk kembali mempertegas tatanan transportasi udara di Jawa Barat.
Pakar Transportasi dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Harun Al-Rasyid Lubis, menekankan pentingnya komitmen bersama untuk kembali ke perencanaan awal, yakni menjadikan Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati, Majalengka, sebagai bandara utama di Jawa Barat.
“Kalau Husein udahlah saya pikir. Kalau ego kita sebagai warga kota Bandung ya saya senang aja bisa bebas kan dari dulu juga enak aja mau ke mana-mana dari Husein. Tapi kalau dilihat jangka panjang ini nggak mungkin, memang harus dikempesin. Walaupun tidak dimatikan sama sekali, lalu ya kita mencoba mendorong menghidupkan BIJB,” kata Harun saat dihubungi, Minggu (5/4/2026).
ADVERTISEMENT
Harun menilai bahwa meski secara emosional warga Bandung merasa nyaman dengan bandara di tengah kota, secara teknis dan jangka panjang, operasional komersial di Husein memang harus dibatasi demi keberlangsungan industri penerbangan yang lebih besar.
Ia menjelaskan bahwa keberadaan dua bandara internasional yang jaraknya relatif berdekatan berisiko menimbulkan kanibalisasi pasar atau yang ia sebut sebagai fenomena “jeruk makan jeruk”.
Menurutnya, mustahil menghidupkan BIJB Kertajati secara optimal jika Bandara Husein tetap dipaksakan melayani penerbangan komersial skala besar seperti sediakala.
“Kalau semuanya internasional lalu di Majalengka juga internasional, jadi kayak jeruk makan jeruk. Jadi harus batasi kalau ada pasar. Pasarnya kan bisnis apa nih angkutan udara, bisnis bandara kan banyak pasarnya yang bisa dikembangkan,” ujar Harun.

Sebelumnya, kata Harun, Bandara Husein Sastranegara memang sempat mengalami pembenahan infrastruktur mulai dari perluasan terminal hingga perpanjangan landasan pacu atau runway demi mengejar kenyamanan penumpang.
Ia mengakui peningkatan fasilitas tersebut sempat menjadi daya tarik bagi warga Bandung dan sekitarnya, namun perkembangan kota yang semakin padat membuat posisi bandara di tengah kota sudah tidak lagi ideal secara tata ruang.
“Saya juga nggak menyarankan Husein kembali ke zaman dulu misalnya, karena kota ini udah sangat padat ya, yang pasti Husein kan tidak bisa dipertahankan sebagai bandara di tengah kota,” tuturnya.
Lebih lanjut, Harun menyarankan agar operasional Bandara Husein dialihkan pada sektor-sektor yang lebih terbatas dan bersifat strategis daripada bersaing memperebutkan penumpang pesawat komersial. Ia melihat potensi besar pada pengembangan industri pesawat terbang yang sudah ada di kawasan tersebut, layanan pemeliharaan pesawat, hingga fungsi pertahanan nasional di bawah kendali TNI AU.
“Tetap industri pesawat PT Dirgantara Indonesia, lalu Angkatan Udara mungkin dari sisi strategis pertahanan, Hankam dan lain-lain silakan. Lalu yang sifatnya pesawat charter. Jadi memang istilahnya hub yang dulu agak besar, sekarang agak dikempesin dikit lah gitu ya dengan harapan tadi mulai ada yang beralih ke BIJB,” kata Harun.
Chairman Infrastructure Partnership & Knowledge Center (IPKC) ini juga menyoroti adanya hambatan dalam sinkronisasi kebijakan antara pemerintah daerah yang selama ini terkesan berjalan sendiri-sendiri atau terjebak dalam ego sektoral. Ia mendorong agar perencanaan transportasi di Jawa Barat tidak lagi bersifat terfragmentasi sehingga tidak membingungkan pihak maskapai maupun masyarakat sebagai pengguna jasa.
“Artinya selama ini terjadi perencanaan yang terfragmentasi, silo ego pemerintahan yang sifatnya ya harusnya berdamai tadi. Beresin dulu itu. Ke depan maunya bagaimana ya istilahnya kooperatif lah jangan terlalu kompetisi head to head,” tegasnya.
Ia juga mendorong seluruh pemangku kepentingan untuk melihat proyeksi transportasi udara ini dengan perspektif kooperatif demi menghidupkan konektivitas udara di Jawa Barat secara utuh.
“Saya yakin baliklah ke titik awal sebagaimana tatanan yang udah disepakati jangan maju mundur lagi kalau tatanan itu udah ada, jangan ego Pemda ataupun Pemkot mau menonjol,” ujarnya.
Sebelumnya, maskapai Wings Air milik Lion Air Group menghentikan operasional ketiga rute penerbangannya di Bandara Husein Sastranegara. Rute ini notabene merupakan rute baru yang dihadirkan sebagai upaya awal Pemkot Bandung untuk mereaktivasi Bandara Husein. Ketiga rute tersebut yakni:
Bandung – Solo (dibuka sejak 20 Desember 2025)
Bandung – Semarang (dibuka sejak 21 Desember 2025)
Bandung – Yogyakarta (dibuka sejak 11 Februari 2026)
“Jadwal tersebut tidak tersedia dan kami belum dapat informasi selanjutnya kapan tersedia atau tidak,” kata staff customer service Lion Air Group melalui pesan singkat, Minggu (5/4/2026).
Dengan situasi ini, wacana reaktivasi Bandara Husein kembali menjadi sorotan dan menggulirkan kembali diskursus terkait penataan infrastruktur transportasi udara di Jawa Barat.
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






