KORANMANDALA.COM –Arus balik Lebaran 2026 di jalur Nagreg, Kabupaten Bandung, menjadi momentum peningkatan ekonomi bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di sepanjang jalur tersebut.
Pemilik Toko Oleh-Oleh Lingkar Barat Nagreg, Gini Raina, mengatakan omzet penjualan meningkat signifikan selama periode arus balik dibanding hari biasa.
“Biasanya omzet Rp2 juta sampai Rp3 juta per hari, saat arus balik bisa mencapai Rp4 juta hingga Rp6 juta,” ujarnya, Kamis (27/3/2026).
Ketua Komisi I DPRD Bandung Soroti Kinerja ASN, Singgung Kesenjangan dengan Tenaga Honorer
Menurutnya, arus balik menjadi periode paling ramai karena banyak pemudik dari luar daerah seperti Jakarta dan Banten berhenti untuk membeli oleh-oleh. Ia menjual berbagai produk khas Jawa Barat, seperti dodol Garut, peuyeum, hingga olahan ubi dan tempe.
“Kalau di sini justru lebih ramai saat arus balik. Sebelum Lebaran, arus ke arah timur yang lebih padat,” katanya.
Hal senada disampaikan anggota DPRD Jawa Barat Komisi V, Humaira Zahrotun Noor. Ia menilai keberadaan UMKM di jalur mudik dan arus balik memiliki peran strategis dalam mendorong perputaran ekonomi lokal.
Menurutnya, aktivitas pemudik yang berhenti untuk beristirahat turut membuka peluang transaksi yang berdampak langsung pada pendapatan masyarakat sekitar.
“Pemudik yang melintas dan berbelanja di kawasan Nagreg berkontribusi pada peningkatan ekonomi lokal,” ujarnya.
Selain itu, ia menekankan pentingnya keberadaan posko mudik untuk mendukung kelancaran lalu lintas serta kesiapsiagaan petugas selama periode Lebaran.
Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Bandung mencatat sebanyak 2.081.889 kendaraan melintas di jalur Nagreg sejak H-7 hingga H+5 Lebaran 2026. Angka tersebut meningkat dibanding tahun sebelumnya yang mencapai 1.980.911 kendaraan.
Dinas Perhubungan bersama petugas gabungan pun melakukan pengaturan lalu lintas serta menyiagakan personel di sekitar pusat oleh-oleh guna menjaga kelancaran arus sekaligus mendukung aktivitas ekonomi masyarakat.
