ADVERTISEMENT
KORANMANDALA.COM – Puncak arus balik Lebaran 1447 Hijriah kembali menguji kesiapan aparat di lapangan. Polres Cimahi menyiapkan sejumlah skema rekayasa lalu lintas di ruas Tol Padaleunyi–Cipularang arah Jakarta, dengan titik krusial berada di Rest Area KM 125 yang akan diberlakukan sistem buka-tutup secara situasional.
Namun, di tengah rutinitas skema tahunan ini, pertanyaan mendasar kembali muncul: sejauh mana langkah antisipatif tersebut benar-benar mampu mengurai kepadatan, bukan sekadar merespons kemacetan yang sudah terjadi?
Kapolres Cimahi, AKBP Niko N. Adi Putra, memprediksi puncak arus balik terjadi pada Selasa (24/3/2026) hingga Rabu (25/3/2026), dengan pergerakan kendaraan didominasi pemudik jarak jauh dan wisatawan dari kawasan Bandung Raya.
ADVERTISEMENT
PKL “Kuasai” Trotoar di Bandung Timur, Perda Jalan di Tempat, Pengawasan Dipertanyakan
“Kami mencatat adanya peningkatan volume kendaraan pada jam-jam tertentu, khususnya menjelang Zuhur dan Magrib. Skema buka-tutup rest area dan pengalihan arus sudah kami siapkan agar tidak terjadi penumpukan,” ujarnya saat memantau situasi di Lembang.
Fokus pengaturan di Rest Area KM 125 menjadi titik sensitif. Selama ini, rest area kerap menjadi sumber bottleneck akibat kendaraan yang keluar-masuk tanpa kendali. Sistem buka-tutup dinilai sebagai solusi cepat, namun di sisi lain berpotensi memindahkan titik kemacetan ke badan jalan tol jika tidak diiringi manajemen arus yang presisi.
Selain itu, opsi pengalihan kendaraan melalui Gerbang Tol Cikamuning menuju jalur arteri Purwakarta juga disiapkan. Langkah ini lazim digunakan saat kapasitas tol dianggap tidak lagi mampu menampung lonjakan volume kendaraan.
Masalahnya, pengalihan ke jalur arteri seringkali justru memindahkan beban ke jalan non-tol yang tidak selalu siap menampung lonjakan kendaraan dalam waktu bersamaan.
Di sisi lain, kepolisian mengklaim kapasitas rest area masih dalam batas aman. Namun, fakta di lapangan pada periode mudik sebelumnya menunjukkan bahwa lonjakan kendaraan bisa terjadi secara tiba-tiba dan melampaui prediksi.
Tak hanya jalur tol, kawasan wisata Bandung Utara seperti Lembang dan Cisarua juga menjadi perhatian serius. Sebanyak 103 personel dan 20 tim urai kemacetan diterjunkan untuk mengantisipasi kepadatan di jalur wisata yang kerap menjadi simpul pertemuan arus lokal dan arus balik.
Polisi mengimbau pengendara tetap menggunakan jalur arteri utama dan menghindari jalur alternatif atau “jalan tikus”. Imbauan ini bukan tanpa alasan—jalur kecil yang tidak terpantau seringkali justru memicu kemacetan baru dan menyulitkan intervensi petugas.
“Kami arahkan masyarakat tetap di jalur arteri karena lebih mudah terpantau. Anggota kami akan memastikan arus tetap mengalir,” kata Niko.
Meski berbagai skema telah disiapkan, pola penanganan yang cenderung reaktif masih menjadi catatan. Rekayasa lalu lintas kerap diterapkan ketika kepadatan sudah terjadi, bukan berbasis prediksi yang mampu mencegah penumpukan sejak awal.
Koordinasi lintas wilayah, integrasi data lalu lintas real-time, hingga disiplin pengguna jalan menjadi faktor kunci yang selama ini belum sepenuhnya optimal.
Polres Cimahi optimistis arus balik tahun ini akan berjalan lancar. Namun, publik tentu berharap lebih dari sekadar optimisme—yakni bukti bahwa skema yang disiapkan benar-benar mampu memecah kemacetan, bukan sekadar menggesernya dari satu titik ke titik lain.
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






