ADVERTISEMENT
KORANMANDALA.COM –Di tengah kekhawatiran memudarnya minat generasi muda terhadap seni tradisi, penampilan anak-anak pesilat justru menjadi sorotan dalam Milangkala Paguron Lugay Pusaka Jati Manunggal ke-14 yang digelar di Jalan Jati Mulya, Gumuruh, Kecamatan Batununggal, Kota Bandung, Minggu (1/2/2026).
Puluhan anak usia dini hingga remaja tampil membawakan rangkaian seni pencak silat di hadapan warga sekitar. Penampilan tersebut bukan sekadar hiburan, melainkan penanda bahwa proses regenerasi di tubuh paguron masih berjalan dan mendapat tempat di tengah masyarakat.
Dalam peringatan hari jadi paguron itu, para pesilat cilik menampilkan silat ibing, sebuah bentuk pencak silat yang menitikberatkan pada keindahan gerak jurus yang selaras dengan irama. Aksi mereka menarik perhatian warga yang memadati lokasi kegiatan.
ADVERTISEMENT
Pembangunan Jalur BRT Mulai Februari, Dishub Akui Potensi Macet di Pusat Kota Bandung
Asisten Pelatih Pagarnusa Kota Bandung, Mohamad Tariq Fauzan (25), mengatakan penampilan tersebut merupakan bagian dari peragaan seni pencak silat yang rutin dilatih di paguron.
“Yang ditampilkan lebih ke seni, mulai dari jurus baku Pagarnusa sampai kesenian daerah seperti silat ibing,” ujar Tariq.
Selain peragaan jurus, anak-anak juga dilibatkan dalam atraksi lanjutan sebagai penutup pertunjukan. Atraksi tersebut meliputi pecah hebel hingga permainan api yang disesuaikan dengan unsur keselamatan.
“Di akhir ada atraksi pecah hebel, makan lampu, dan api,” kata Tariq.
Ia menyebutkan, sekitar 25 anak terlibat dalam penampilan tersebut. Meski persiapan teknis dilakukan sekitar satu minggu, para pesilat merupakan peserta latihan aktif yang telah terbiasa dengan materi yang ditampilkan.
Lebih jauh, Tariq menekankan pentingnya pencak silat sebagai ruang alternatif bagi anak-anak di tengah dominasi gawai dan aktivitas digital.
“Daripada anak-anak terus terganggu gadget, lebih baik diarahkan ke olahraga. Pencak silat bisa jadi wadah yang membentuk fisik, mental, dan disiplin,” ujarnya.
Pencak silat sendiri bukan hanya warisan bela diri, tetapi juga sarana pembentukan karakter yang diwariskan turun-temurun melalui paguron. Nilai kedisiplinan, pengendalian diri, dan penghormatan terhadap guru menjadi bagian dari proses latihan yang berjenjang.
Antusiasme warga turut memperkuat makna kegiatan tersebut. Salah seorang warga, Risna (23), mengaku tertarik menyaksikan penampilan anak-anak pesilat, terutama pada bagian atraksi.
“Tadi yang terakhir pencak silat, yang ada atraksinya,” katanya.
Menurutnya, kegiatan semacam ini penting sebagai ruang pengenalan budaya kepada masyarakat luas.
“Penting supaya warga tahu dan mengenal pencak silat,” ujarnya.
Milangkala Paguron Lugay Pusaka Jati Manunggal ke-14 bukan hanya menjadi perayaan usia paguron, tetapi juga cermin proses kaderisasi pencak silat di tingkat akar rumput. Melalui keterlibatan anak-anak, paguron menunjukkan upaya menjaga kesinambungan seni bela diri tradisional di tengah perubahan zaman. (Rifki Rafsanjani/MG)
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






