Kepala Dishub Kota Bandung, Rasdian Setiadi, mengatakan pembangunan jalur BRT telah memasuki fase pengerjaan fisik, khususnya pada jalur on corridor yang menggunakan lajur khusus dan akan berdampak langsung pada arus kendaraan umum.
“Pembangunan on corridor sama halte itu pasti akan berdampak kepada kemacetan,” ujar Rasdian.
Pembangunan BTR Dimulai Awal Tahun 2025
Dari total rencana awal 20 rute, Dishub menyebut hanya 18 rute BRT yang akan dijalankan. Dari jumlah tersebut, sekitar 21 kilometer di antaranya merupakan jalur on corridor yang akan dibangun di ruas-ruas vital Kota Bandung.
“Dari 18 rute itu, ada 21 kilometer yang on corridor atau jalur khusus,” kata Rasdian.
Sejumlah ruas jalan yang masuk dalam jalur khusus BRT meliputi Jalan Sudirman, Rajawali, Pasir Koja, Otista, Dewi Sartika, Banceuy, Naripan, Ahmad Yani, hingga Jalan Jakarta—kawasan yang selama ini dikenal sebagai titik rawan kepadatan lalu lintas.
Rasdian menjelaskan, hingga saat ini pengerjaan jalur on corridor, termasuk halte dan separator fisik, belum memasuki tahap kontrak dan masih menunggu proses dari Kementerian Perhubungan.
“Rencananya kontrak Februari ini. Setelah itu baru pengerjaan halte dan separator,” ujarnya.
Untuk mengantisipasi dampak kemacetan, Dishub menyatakan akan menempatkan lebih banyak petugas di lapangan serta berkoordinasi dengan kepolisian. Namun, skema rekayasa lalu lintas yang akan diterapkan belum dijelaskan secara rinci.
“Memang harus banyak petugas dan koordinasi dengan kepolisian. Rekayasanya seperti apa nanti akan dibahas,” ucap Rasdian.
Dishub juga berencana menggelar Forum Group Discussion (FGD) Forum Lalu Lintas pada Februari untuk membahas strategi jangka pendek, menengah, dan panjang selama masa pembangunan berlangsung.
Selain itu, Rasdian menyebut pengaturan lalu lintas akan dibantu dengan penerapan Intelligent Traffic System (ITS) berbasis kecerdasan buatan (AI) pada lampu lalu lintas, yang masih dalam tahap uji coba.
“Lampu merah AI ini sudah diuji coba sejak tahun lalu. Kalau antrean panjang, lampu bisa otomatis hijau,” katanya.
Meski demikian, Dishub belum merinci sejauh mana efektivitas sistem tersebut mampu meredam lonjakan kemacetan, terutama di tengah pembangunan fisik yang akan berlangsung di banyak titik sekaligus.