KORANMANDALA.COM – Upaya penanganan dan mitigasi bencana longsor tidak boleh hanya terfokus pada kawasan perkotaan. Daerah pegunungan dan wilayah hulu sungai yang rawan longsor justru perlu mendapat perhatian lebih, termasuk melalui pemasangan sistem pemantauan seperti kamera pengawas (CCTV) dan alat deteksi dini.
Pakar geologi longsoran Institut Teknologi Bandung (ITB), Dr.Eng. Imam Achmad Sadisun, S.T., M.T., menegaskan bahwa mitigasi bencana bertujuan untuk mengurangi dampak dan korban jiwa jika peristiwa serupa kembali terjadi di masa mendatang.
“Mitigasi itu intinya adalah usaha agar kalau kejadian lagi, dampaknya tidak sebesar ini, tidak menimbulkan korban, atau setidaknya kerugiannya jauh lebih kecil,” ujar Imam, Rabu (28/1/2026).
Pantang Remehkan Lawan, Alfeandra Dewangga Tegaskan Persib Bandung Fokus Sapu Bersih Kemenangan
Menurutnya, mitigasi longsor memiliki banyak aspek, mulai dari perlindungan kawasan hulu hingga penguatan fisik di sepanjang alur sungai. Lereng-lereng di daerah pegunungan yang berpotensi longsor harus benar-benar dijaga agar tidak menjadi sumber material bencana.
“Lahan-lahan yang berpotensi longsor di bagian atas itu harus dijaga. Lereng-lereng sungai di hulu juga perlu dilindungi dari proses longsoran yang bisa terjadi sewaktu-waktu,” jelasnya.
Imam menyebut, upaya tersebut membutuhkan kerja sama lintas sektor, termasuk pengelola kawasan hutan dan pemerintah daerah, mengingat sebagian wilayah rawan longsor berada di kawasan hutan lindung.
“Wilayah itu kan milik perhutani, jadi harus ada kerja sama dengan pemerintah daerah. Kalau memang perlu, lereng bisa diperkuat dengan perkuatan buatan, meskipun biayanya cukup besar,” katanya.
Selain penguatan lereng, Imam menilai pembangunan struktur pengendali di sepanjang sungai juga penting untuk menahan dan mengarahkan aliran material longsor agar tidak langsung menerjang permukiman.
“Sepanjang jalur sungai bisa dibangun konstruksi pertahanan, seperti bendungan sabo untuk menahan batu, pasir, dan lumpur, atau dinding pengarah (deflection wall) untuk membelokkan aliran agar tidak menghantam permukiman,” ujarnya.
Namun, ia menekankan bahwa mitigasi struktural perlu dibarengi dengan sistem pemantauan modern, terutama di kawasan pegunungan yang selama ini minim pengawasan.
“Yang penting juga itu pemantauan. Di luar negeri, daerah rawan longsor di gunung-gunung dipasangi CCTV, bukan hanya di perkotaan jalan saja” ungkap Imam.
Selain itu, pemantauan curah hujan juga dinilai krusial, mengingat hujan ekstrem kerap menjadi pemicu utama longsor.
“Curah hujan ekstrem bisa dipantau dari jauh. Kalau digabungkan dengan CCTV dan alat deteksi, masyarakat di bawah bisa mendapat peringatan lebih cepat,” katanya.
Di luar mitigasi fisik, Imam menekankan pentingnya mitigasi non-struktural atau sosial, berupa peningkatan pemahaman dan kesiapsiagaan masyarakat.
“Mitigasi sosial juga sangat penting. Masyarakat harus makin paham dan melek terhadap potensi longsor di sekitarnya, lewat sosialisasi, literasi, peran media, LSM, dan regulasi dari pemerintah,” ujarnya.
Menurutnya, seluruh upaya tersebut bermuara pada pembentukan masyarakat yang tangguh menghadapi bencana.
“Pada akhirnya, tujuan mitigasi itu membentuk masyarakat yang tangguh dan siap siaga terhadap bencana,” pungkas Imam.
