ADVERTISEMENT
KORANMANDALA.COM –Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta kelompok masyarakat di Kabupaten Garut mendapatkan peluang untuk terlibat sebagai pemasok (supplier) dalam Program MBG. Dalam skema ini, PT Mandala 525 berperan sebagai penjamin kualitas produk.
Kegiatan tersebut digelar di Pabrik PT Mandala 525, Jalan Guntur Melati, Haurpanggung, Kabupaten Garut, Rabu (20/1/2026).
Direktur Utama PT Mandala 525, H. Haris Kalicman, menegaskan bahwa perusahaannya hanya berperan sebagai penjamin kualitas dengan dukungan teknologi dan kapasitas produksi yang dimiliki.
ADVERTISEMENT
LPDP 2026: Ketika Negara Memilih Ilmu, dan Pertanyaan tentang Ekosistem
“Dalam program ini, PT Mandala 525 hanya menjamin kualitas produk. Dengan teknologi dan kapasitas pabrik yang kami miliki, kami sudah berizin BPOM dan bersertifikasi CPOB, sehingga kualitas produk dijamin sesuai Standar Nasional Indonesia,” ujar Haris.
Ia juga menjelaskan, sejak tahun 2000 PT Mandala 525 telah menggunakan kedelai sebagai bahan baku utama dalam produksi susu kedelai bubuk.
“Sejak tahun 2000 kami sudah memproduksi susu bubuk kedelai. Bahan bakunya ada yang berasal dari lokal dan impor. Dari sisi kualitas, keduanya sama-sama bagus,” katanya.
Sementara itu, Bupati Garut Abdusy Syakur Amin menilai pemberdayaan UMKM dan kelompok masyarakat sebagai supplier dalam Program MBG merupakan langkah pengembangan yang komprehensif. Menurutnya, program ini turut membantu UMKM dalam mengatasi berbagai persoalan mendasar.
“Ini bentuk pengembangan yang komprehensif karena teman-teman UMKM dibantu menghadapi persoalan yang selama ini sering dihadapi, mulai dari ketersediaan bahan baku hingga dukungan alat produksi,” ujar Syakur.
Ia menjelaskan, proses produksi dalam program tersebut melibatkan Universitas Padjadjaran (Unpad) untuk menjamin aspek keamanan pangan. Selain itu, Dinas Kesehatan juga turut melakukan pengawasan.
“Proses produksinya mendapat pendampingan dari Unpad, dan yang tidak kalah penting adalah aspek keamanan pangan. Dinas Kesehatan juga turun langsung memastikan produk yang dihasilkan memenuhi standar pangan, aman dikonsumsi, dan memiliki daya simpan yang baik,” katanya.
Dari sisi pemasaran, Syakur berharap produk UMKM dapat berkolaborasi lebih luas dengan Program MBG. Pemerintah daerah, kata dia, akan mencoba membangun komunikasi dengan Badan Gizi Nasional (BGN) agar produk lokal dapat direkomendasikan.
“Kami berharap bisa berkolaborasi dengan MBG. Nanti akan kami coba bersurat ke BGN agar ini dapat dipertimbangkan, meskipun kewenangan tetap ada di masing-masing SPPG,” ujarnya.
Syakur juga menaruh harapan besar agar SPPG mampu memberikan manfaat nyata, mulai dari penyediaan bahan baku, proses produksi, hingga pemberdayaan masyarakat. Ia pun menyinggung potensi Garut sebagai daerah penghasil kedelai.
“Tadi saya juga berbicara dengan Rektor Unpad terkait bagaimana mendorong budidaya kedelai di Garut. Dari kajian yang ada, Garut sangat cocok untuk budidaya kedelai,” lanjutnya.
Menurut Syakur, kedelai merupakan komoditas strategis karena banyak digunakan sebagai bahan pangan di Indonesia. Saat ini, Indonesia masih mengimpor sekitar 2,6 juta ton kedelai per tahun, sehingga peluang pengembangan produksi lokal masih sangat terbuka.
“Ini peluang besar. Kedelai adalah komoditas vital. Maka ke depan, bahan bakunya kita pikirkan bersama, prosesnya, teknologinya, hingga pasarnya. Semua perlu dikerjakan secara kolaboratif,” pungkasnya.
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






