KORANMANDALA.COM –Rumah Pelangi bersama Yayasan AWIKA menggelar kegiatan syukuran sekaligus talkshow budaya bertajuk “Ngahiji Dina Warna jeung Rasa, Ngarangkaikeun Hiji Carita”, Sabtu (17/1/2026).
Acara ini digelar di Rumah Pelangi, Kampung Sindangsari RT 05/15, Kelurahan Manggahang, Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung.
Kegiatan tersebut menjadi momentum refleksi perjalanan Rumah Pelangi yang telah memasuki usia 13 tahun, sekaligus ruang dialog lintas generasi yang mempertemukan seni, budaya, pendidikan, dan nilai kebersamaan dalam satu narasi.
5 Rekomendasi Oleh-oleh Makanan Khas Bandung yang Wajib Dibawa Pulang Saat Liburan
Pendiri Rumah Pelangi, Asep Suhendar, mengungkapkan rasa syukur atas perjalanan panjang yang telah dilalui. Ia menyebut, 13 tahun perjalanan Rumah Pelangi merupakan proses yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya.
“Selama 13 tahun ini saya sangat bersyukur. Ini perjalanan yang sungguh tidak pernah saya bayangkan. Alhamdulillah, Rumah Pelangi sekarang sudah punya tempat sendiri, tidak kontrak dan tidak berpindah-pindah lagi,” ujar Asep.
Menurutnya, keberadaan tempat tetap menjadi langkah awal yang penting agar Rumah Pelangi bisa lebih konsisten dalam mendampingi proses tumbuh dan berkembang anak.
“Ini menjadi langkah pertama dan langkah awal Rumah Pelangi untuk terus konsisten memberikan yang terbaik dalam mendampingi proses pembukaan anak,” katanya.
Asep juga menilai peringatan tahun ke-13 menjadi momen istimewa karena dukungan luas dari berbagai pihak, khususnya para narasumber yang hadir secara sukarela.
“Yang spesial di tahun ke-13 ini, saya disupport luar biasa oleh para narasumber. Mereka dengan ikhlas berbagi inspirasi dan cerita di Rumah Pelangi kepada masyarakat. Itu sesuatu yang benar-benar tidak pernah terpikirkan sebelumnya,” ungkapnya.
Ke depan, Rumah Pelangi telah menyiapkan sejumlah program jangka panjang yang dirancang dalam satu periode tahunan. Program tersebut menyasar berbagai kelompok usia, mulai dari anak-anak, remaja, hingga orang dewasa.
“Kami punya program belajar bersama untuk remaja, semacam study group. Selain itu, kami juga mengangkat UMKM warga melalui program ibu-ibu, membuat produk bersama dan belajar rutin setiap pekan,” jelas Asep.
Tak hanya itu, kegiatan khusus anak-anak tetap menjadi fokus utama, yang dilaksanakan secara rutin setiap akhir pekan.
“Di Rumah Pelangi, kegiatannya bukan hanya untuk anak-anak, tapi juga remaja dan ibu-ibu. Karena rumah itu tempat berkumpul, saling menyayangi. Ada ibu, ayah, kakak, dan anak. Itulah yang membuat kami kuat dan bisa konsisten,” katanya.
Ia berharap keberadaan Rumah Pelangi tidak hanya memberi manfaat bagi anak-anak binaan, tetapi juga mampu memberi dampak positif bagi lingkungan sekitar.
“Kami ingin Rumah Pelangi bisa bermanfaat, menginspirasi, dan berdampak bagi anak-anak dan lingkungan lainnya,” ucap Asep.
Ketua Yayasan AWIKA, Kenny Dewi, menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan mempertemukan beragam perspektif seni, rasa, dan warna kehidupan dalam satu ruang dialog yang inklusif.
Dalam kegiatan talkshow tersebut, hadir sejumlah narasumber dari berbagai latar belakang, di antaranya Tatooz Saratuspersen (desainer dan bass player), Bhatarasena (seniman dan budayawan), serta Kenny Dewi, Ketua Yayasan AWIKA sekaligus Founder TK Jagad Alit Waldorf. Diskusi dipandu oleh Annisa NF sebagai moderator, serta dimeriahkan penampilan spesial bertajuk “Cerita the Kahl”.
