Kamis, 26 Februari 2026 19:36

KORANMANDALA.COM –Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Air Minum Tirta Intan Kabupaten Garut menggelar pelatihan public service sebagai upaya meningkatkan kualitas pelayanan kepada pelanggan. Kegiatan tersebut berlangsung di Aula Perumda Tirta Intan, Jalan Raya Garut–Bayongbong, Kabupaten Garut, Senin (11/1/2026).

Pelatihan ini dihadiri Wakil Bupati Garut, , yang sekaligus memberikan pembinaan kepada jajaran manajemen dan karyawan Perumda Tirta Intan selaku Badan Usaha Milik Daerah ().

Dalam sambutannya, Putri Karlina menekankan pentingnya pemanfaatan forum pembinaan sebagai sarana berbagi informasi dan evaluasi kinerja perusahaan, khususnya dalam peningkatan pelayanan dan profit perusahaan.

Upaya Lepas dari Status Tersangka Kandas, PN Bandung Tegaskan Penyidikan Kasus Erwin Sah

“Manfaatkan pembinaan dan sharing informasi ini. Dari diskusi bersama teman-teman, kita mendapatkan banyak masukan untuk perbaikan PDAM, terutama dalam peningkatan profit,” ujar Putri.

Putri menegaskan bahwa orientasi utama Perumda Tirta Intan ke depan harus berfokus pada kepuasan pelanggan. Menurutnya, pelayanan yang baik akan menjaga pelanggan tetap loyal sekaligus menarik masyarakat yang belum berlangganan.

“Yang diprioritaskan tentu mempertahankan kepuasan pelanggan. Pelanggan yang sudah ada jangan sampai keluar, dan masyarakat yang belum berlangganan bisa tertarik untuk menjadi pelanggan,” katanya.

Selain itu, Putri juga mendorong Perumda Tirta Intan untuk memberikan tarif yang kompetitif, pelayanan optimal, serta fasilitas yang memadai, baik pada saat pendaftaran pelanggan baru maupun dalam proses pembayaran.

Sementara itu, Direktur Utama Perumda Tirta Intan Garut, H. Dadan Hidayatulloh, menyampaikan bahwa kehadiran Wakil Bupati dalam kegiatan tersebut merupakan bagian dari peran pembina BUMD.

“Tadi memang pelatihan, tetapi Ibu Wakil Bupati langsung memanfaatkan kesempatan ini sebagai pembina BUMD, khususnya PDAM, untuk melakukan pembinaan,” ujar Dadan.

Dadan juga menyoroti masih banyaknya penggunaan sumur dalam oleh masyarakat yang berpotensi menimbulkan dampak lingkungan dan keselamatan.

“Output dari pembinaan ini salah satunya soal pelayanan. Kami juga mengusulkan agar penggunaan sumur dalam di masyarakat bisa dikurangi karena berisiko dan berbahaya,” jelasnya.

Terkait revitalisasi jaringan Viva yang sudah berusia tua, Dadan mengatakan pembaruan akan dilakukan menyesuaikan dengan ketersediaan anggaran.

“Revitalisasi jaringan Viva yang sudah uzur itu kembali lagi pada ketersediaan dana. Kalau ada dana, tentu akan kami lakukan pembaruan jaringan,” katanya.

Selain peningkatan pelayanan dan revitalisasi jaringan, Perumda Tirta Intan juga akan meluncurkan pemanfaatan sumber mata air Cihaneut yang berlokasi di Kecamatan Tarogong Kaler. Proyek tersebut didanai APBN dengan nilai anggaran sebesar Rp3,1 miliar.

“Program yang akan kami luncurkan adalah pemanfaatan mata air Cihaneut. Ini bantuan APBN sekitar Rp3,1 miliar untuk mengaliri kawasan Tarogong Kaler. Proses lelang direncanakan akhir Januari, dan pelaksanaan bisa berlangsung hingga pertengahan atau akhir tahun,” tegas Dadan.

Ia menjelaskan, sumber mata air Cihaneut nantinya memiliki kapasitas debit air sekitar 30 liter per detik. Ke depan, revitalisasi lanjutan seperti pembangunan water treatment juga akan dilakukan sesuai kebutuhan dan ketersediaan anggaran.

“Kapasitas awalnya 30 liter per detik. Ke depan bisa direvitalisasi lagi, seperti mata air Cipularang yang dilengkapi instalasi pengolahan air. Pendanaannya bisa dari internal perusahaan atau sumber investasi lain,” jelasnya.

Pengaliran air dari sumber Cihaneut ini diprioritaskan untuk Kecamatan Tarogong Kaler, yang sebelumnya masuk kategori daerah Tidak Ada Air (TDA).

“Tarogong Kaler dulunya daerah TDA. Alhamdulillah, di era kepemimpinan sekarang yang tidak ada air bisa menjadi ada air,” tambahnya.

Dadan memastikan kesiapan sumber daya manusia (SDM) dan teknis pelaksanaan proyek tersebut. Ia menyebut koordinasi dengan pemerintah pusat dan provinsi telah dilakukan.

“SDM siap, teknis juga siap. Saya sudah bolak-balik ke Jakarta, ke balai dan Cipta Karya Provinsi. Sekarang tinggal eksekusi. Ke depan, perusahaan juga harus kembali mengupayakan dukungan APBN, APBD, maupun swasta,” pungkasnya.

Adapun terkait keluhan pelanggan di wilayah Garut Kota mengenai aliran air yang tidak normal, Dadan menjelaskan hal tersebut umumnya disebabkan oleh kendala teknis berskala kecil. Sementara untuk ketersediaan sumber air, ia memastikan kondisinya masih tergolong aman.

Exit mobile version