ADVERTISEMENT
KORANMANDALA.COM –Insiden penipuan emas yang berujung penembakan menggunakan airsoft gun meninggalkan luka yang bukan hanya membekas di wajah, tetapi juga di batin Engkim Yoso Utomo (68).
Pedagang kaki lima yang selama puluhan tahun menggantungkan hidup dari jasa servis jam tangan dan jual beli emas di kawasan Sukajadi, Kota Bandung itu kini terpaksa menghentikan seluruh aktivitasnya.
Meski uang miliknya telah kembali dan ia secara pribadi menyatakan telah memaafkan pelaku, kondisi fisik dan psikologis Engkim belum sepenuhnya pulih. Trauma masih menyelimuti kesehariannya, membuat lapak kecil yang biasa menjadi tumpuan hidupnya kini sunyi.
ADVERTISEMENT
Digadang Gadang Deal Dengan Persib Bandung, Maarten Paes Berikan Jawaban
Usai kejadian, Engkim langsung dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis. Luka tembak yang diterimanya cukup serius, menembus pipi kiri hingga mengenai bagian gigi.
“Lukanya di sini, tembus sampai ke gigi. Dua gigi saya rontok,” kata Engkim lirih saat ditemui di tempat usahanya, Jumat (26/12/2025).
Ia mengungkapkan, proses penanganan medis berlangsung cukup lama hingga dini hari. Engkim baru selesai mendapatkan perawatan sekitar pukul 01.30 WIB. Namun karena bertepatan dengan masa libur, tindakan lanjutan belum bisa langsung dilakukan.
“Dokter bilang ini enggak bisa lama, harus segera ditangani. Tapi karena libur, katanya paling cepat hari Senin. Saya enggak mau nunggu, akhirnya cari dokter lain,” ujarnya.
Sebagai pedagang kecil, Engkim menyadari biaya pengobatan bukan perkara ringan. Meski demikian, ia memilih untuk tetap menjalani perawatan secara mandiri demi keselamatannya.
“Kalau pakai BPJS kan prosesnya panjang. Saya siap saja, yang penting luka ini ditangani,” ucapnya pasrah.
Namun luka fisik bukan satu-satunya yang harus ia hadapi. Trauma akibat kejadian tersebut membuat Engkim belum berani kembali membuka lapaknya. Rasa takut masih menghantui, terlebih luka di wajahnya belum sepenuhnya pulih.
“Saya masih trauma. Kalau kena mata waktu itu, mungkin ceritanya lain. Ini kena pipi kiri saja masih bengkak, masih sakit. Jadi saya istirahat dulu,” tuturnya dengan suara tertahan.
Untuk sementara waktu, Engkim memilih menghentikan seluruh aktivitas berdagang. Ia bahkan belum memiliki gambaran kapan bisa kembali mencari nafkah seperti sediakala.
“Belum tahu kapan buka lagi. Saya mau istirahat dulu, mungkin mudik ke kampung buat nenangin diri,” katanya.
Lapak kecil di Sukajadi yang selama ini menjadi saksi kerja kerasnya kini terpaksa ditinggalkan. Di usia senja, Engkim hanya berharap bisa kembali sehat, pulih dari trauma, dan menjalani hari-hari dengan rasa aman.
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






