KORANMANDALA.COM –Tradisi Syukuran Lembur digelar warga Kecamatan Ujungberung, Kota Bandung, Sabtu 13 Desember 2025. Kegiatan ini menjadi momentum doa bersama untuk para leluhur sekaligus ajakan melestarikan budaya lokal dan menjaga alam serta lingkungan sekitar.
Acara tersebut dihadiri Anggota DPRD Kota Bandung, AA Abdul Rozak, Asep Sudrajat, Ketua DPRD Provinsi Jawa Barat, Buky Wibawa, para sesepuh Ujungberung, serta jajaran pemerintah kecamatan hingga kelurahan, termasuk warga Kelurahan Pasanggrahan.
Dalam kesempatan itu, AA Abdul Rozak memimpin doa dan menyampaikan sambutan. Ia menegaskan bahwa syukuran lembur bukan sekadar tradisi seremonial, melainkan bentuk rasa syukur sekaligus ikhtiar menjaga nilai-nilai budaya warisan leluhur.
PT Disty Amanah Tour Gagal Berangkatkan 86 Jemaah Umrah, Dana Rp2,2 Miliar Terancam Tak Kembali
“Syukuran lembur ini adalah ruang kebersamaan untuk mendoakan para leluhur, merawat budaya lokal, serta melestarikan alam dan kawasan yang memiliki nilai cagar budaya,” ujar Rozak.
Sebagai warga yang berdomisili di Ujungberung, Rozak juga mendorong adanya regulasi daerah yang dapat menjadi payung hukum bagi pelestarian budaya di Kota Bandung.
“Mudah-mudahan ke depan lahir Perda Cagar Budaya, baik benda maupun nonbenda, yang menaungi dan melindungi budaya lokal di Kota Bandung,” katanya.

Kehadiran unsur legislatif, tokoh masyarakat, serta aparatur wilayah dalam kegiatan syukuran lembur ini menunjukkan kuatnya komitmen bersama untuk menjaga identitas budaya Ujungberung agar tetap lestari dan diwariskan kepada generasi mendatang.
Ketua Pelaksana Syukuran Lembur Eus Supriati menjelaskan, kegiatan ini lahir dari aspirasi dan kebersamaan masyarakat, bukan program pemerintah. Tradisi ini telah berjalan sekitar 19 tahun sebagai bentuk rasa syukur atas kekayaan alam Ujungberung yang memiliki banyak sumber mata air, tanah yang subur, serta keseimbangan unsur alam yang menopang kehidupan warga.
Rangkaian kegiatan Syukuran Lembur meliputi senam bersama, arak-arakan budaya, ritual kawin cai sebagai simbol penghormatan terhadap sumber air, hingga berbagi rezeki dan berbagai kreasi seni masyarakat, yang juga melibatkan partisipasi warga dari wilayah lain.
Inisiator Syukuran Lembur, Sutrisna, menegaskan bahwa tradisi Syukuran Lembur atau Hajat Bumi yang telah memasuki tahun ke-19 merupakan kegiatan yang tumbuh murni dari kesadaran dan kebersamaan masyarakat, bukan program pemerintah.
Tradisi ini lahir sebagai ekspresi rasa syukur warga atas kehidupan dan alam yang selama ini menjadi sumber penghidupan.
Menurut Sutrisna, sejak awal penyelenggaraannya, Syukuran Lembur berlandaskan pada nilai gotong royong, yang diwujudkan melalui kebersamaan, musyawarah, dan saling membantu antarwarga.
Dengan semangat tersebut, seluruh elemen masyarakat dan kelembagaan, termasuk pemerintah kelurahan, dapat bersatu menyukseskan kegiatan ini secara berkelanjutan.
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






