KORANMANDALA.COM –Dompet Dhuafa bersama Aksa Bumi Langit menggelar program literasi berbasis audiovisual bertajuk Sinekopedia di Trans Studio Mall Bandung, Sabtu 29 November 2025. Kegiatan ini menghadirkan puluhan anak istimewa untuk menonton film “Teman Tegar”, sebuah karya yang mengangkat semangat perjuangan anak berkebutuhan khusus.
Direktur Program Dompet Dhuafa, Ustadz Ahmad Shonhaji, menjelaskan bahwa Sinekopedia merupakan pengembangan gerakan literasi yang sebelumnya digerakkan oleh relawan muda DD Volunteer di berbagai daerah. Jika biasanya literasi dilakukan lewat membaca, kali ini pendekatannya diperluas dengan media audiovisual.
“Literasi itu tidak hanya membaca buku. Melihat audiovisual itu menghadirkan tekanan emosi yang bisa membangun inspirasi lebih kuat. Anak-anak akan belajar bahwa perubahan itu mungkin, bahwa mereka juga bisa berkembang,” ujar Shonhaji.
Sanksi Mengejutkan! Miro Petric Dilarang Dampingi Persib Bandung di 4 Laga Resmi AFC
Ia menyebut film Tegar dipilih karena mampu menampilkan figur anak yang menunjukkan keteguhan luar biasa. Pesan ini diharapkan dapat membentuk pola pikir positif, perubahan perilaku, serta memunculkan keyakinan bahwa setiap anak bisa berbuat lebih baik.
Selain itu, Dompet Dhuafa juga mendorong pemahaman tentang hubungan manusia dengan alam, budaya, dan Sang Pencipta.
“Film ini mengangkat tiga pola hubungan: hablum minallah, hablum minannas, dan hablum minal alam. Indonesia kaya, budaya kita kaya. Itu harus dirasakan dan dijaga oleh anak-anak,” tambahnya.
Sementara itu, kreator Tegar dari Aksa Bumi Langit, Anggi Frisca, menuturkan bahwa film ini tidak dibuat untuk menimbulkan rasa iba, melainkan untuk menginspirasi.
“Kami ingin menunjukkan bahwa Tegar bukan sosok yang harus dikasihani, tapi diteladani. Anak-anak bisa belajar menjadi pahlawan lingkungan, mencintai alam, dan meneladani keteguhan karakter lewat storytelling,” ungkap Anggi.
Anggi juga menjelaskan bahwa kolaborasi ini berlanjut lewat gerakan Teman Tegar, yang mengajak anak-anak belajar nilai-nilai budaya dan lingkungan dari masyarakat adat. “Anak-anak belajar dari visual. Di tengah turunnya minat baca, audiovisual menjadi medium yang efektif, asalkan mengandung nilai moral dan sosial,” katanya.
Dari pihak pemerintah, perwakilan Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana Provinsi Jawa Barat menyampaikan apresiasinya. Visualisasi budaya dan karakter dianggap mendukung pemenuhan hak anak sekaligus penguatan pendidikan moral.
Program ini semakin kuat dengan kehadiran Dompet Dhuafa Jawa Barat sebagai tuan rumah. Perwakilan DD Jabar, Yogi Achmad Fajar, mengatakan kegiatan ini merupakan kolaborasi lintas sektor yang berfokus pada edukasi publik.
“Perlindungan anak dan perempuan itu tugas bersama. Melalui film Tegar kita belajar bahwa di tengah keterbatasan, manusia tetap bisa memberi inspirasi. Tegar hadir dengan senyum tanpa beban. Masa kita kalah sama Tegar?” ujarnya.
Yogi menambahkan bahwa kegiatan hari ini juga menghadirkan 85 anak istimewa, mulai dari yatim, disabilitas, hingga anak jalanan, untuk nonton bareng secara gratis. Seluruh biaya ditanggung Dompet Dhuafa dan para kolaborator.
“Zaman sekarang adalah zamannya kolaborasi. Kalau tujuannya kebaikan, latar belakang kita berbeda pun tetap satu frekuensi. Kami berharap teman-teman media bisa ikut menyuarakan pesan kepedulian ini,” katanya.
Program Sinekopedia diharapkan menjadi gerakan jangka panjang yang dapat mengubah cara anak-anak memandang diri mereka, lingkungan sekitar, dan masa depan. Melalui cerita Tegar, pesan utamanya sederhana: “Jika Tegar bisa, kenapa kita tidak?”
