KORANMANDALA.COM – Malam itu, suara hujan deras tak berhenti mengguyur atap rumah-rumah di Kampung Bojongasih, Desa Dayeuhkolot.
Kilat sesekali menyambar, menyisakan cahaya putih yang memantul di genangan air. Namun bagi warga, bukan petir yang menakutkan melainkan suara gemericik air yang perlahan meninggi dan menelan halaman rumah mereka.
“Yang paling besar tadi subuh. Kemarin hujan deras dari pukul 00.00 WIB sampai malam, ditambah air kiriman,” ujar Muhamad Irfan (36), warga Bojongasih, dengan tatapan lelah menatap ruang tamunya yang kini berubah menjadi kolam kecil.
Sejak Kamis (23/10/2025) malam hingga Jumat pagi, hujan berintensitas tinggi mengguyur wilayah Bandung Raya. Sungai Cipalasari anak Sungai Citarum tak mampu menahan debit air. Ditambah banjir kiriman dari Kota Bandung, ratusan rumah di Bojongasih pun terendam.
Ketinggian air bervariasi, mulai dari 40 sentimeter hingga lebih dari satu meter. Air bahkan merangsek masuk ke ruang kelas SDN Bojongasih 2, memaksa sekolah itu meliburkan kegiatan belajar.
“Air paling tinggi di dalam rumah satu meter lebih, di sekolah sekitar 80 sentimeter, dan di depan rumah mencapai selutut,” katanya dengan tatapan yang sendu.
Disisi lain Hendra Hermawan tak tidur semalaman yang waswas karena banjir sudah mulai datang untuk bertamu.
“Air naik dari magrib dan terus bertambah sampai sekitar pukul 03.00 dini hari. Sekarang juga masih bertambah sedikit,” ujarnya.
Di depan rumahnya, air mengalir deras membawa ranting dan sampah. Beberapa anak muda berusaha mengevakuasi motor ke tempat lebih tinggi, sementara ibu-ibu sibuk menyelamatkan beras dan dokumen penting.
Wawan menjelaskan, banjir kali ini bukan dari luapan Sungai Citarum seperti dulu, melainkan air kiriman dari wilayah Kota Bandung. “Airnya dari Kota Bandung. Kalau dari Citarum sudah jarang meluap ke sini,” ucapnya.
Banjir di Dayeuhkolot, terutama kawasan Bojongasih, bukanlah kisah baru. Setiap musim hujan, warga seperti sudah hafal ritmenya: hujan deras, air naik, rumah terendam, lalu menunggu surut.
Namun yang membuat mereka semakin letih adalah janji penanganan yang tak kunjung nyata.
“Di sini sudah ada folder, tetapi tidak cukup. Volume air di Citarum juga tinggi. Kami sudah usulkan ke bupati untuk dibangun tambahan, tetapi sampai sekarang belum ada realisasi,” ungkapnya
Sementara itu, akses jalan utama Dayeuhkolot pun ikut terendam. Anak-anak tidak bisa bersekolah, sebagian warga tak bisa bekerja. “Sudah bosan dan jenuh,” kata dia dengan suara pelan. “Setiap tahun begini, seperti menunggu giliran banjir datang.”
Ketika air mulai surut sore harinya, warga hanya bisa mengelap lantai, menjemur kasur, dan berharap hujan malam nanti tidak kembali turun.
Bagi mereka, banjir bukan sekadar genangan air melainkan ujian kesabaran yang datang setiap tahun tanpa kepastian solusi.
Di tengah aroma lumpur dan sisa hujan yang menempel di udara, suara anak-anak terdengar bermain di genangan, seolah mencoba menertawakan kenyataan. Namun di mata orang tua mereka, ada kelelahan yang tak bisa disembunyikan.
Karena di Bojongasih, setiap hujan deras bukan lagi berkah, tapi tanda bahaya yang selalu datang tanpa diundang.
