ADVERTISEMENT
KORANMANDALA.COM – Di tengah maraknya kedai kopi bergaya modern dan eksklusif di Kota Bandung, Tempuh Coffee hadir dengan konsep yang berbeda.
Berlokasi di kawasan Ganesha, tak jauh dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Tempuh tidak hanya menjadi tempat menikmati kopi, tetapi juga ruang komunal yang terbuka bagi berbagai latar belakang dan proses kehidupan.
Pemilik Tempuh Coffee, Dimas (34), mengatakan bahwa kedai ini lahir dari perjalanan pribadinya menghadapi kerasnya dunia kerja di Indonesia, khususnya di bidang arsitektur.
ADVERTISEMENT
“Latar belakang saya arsitektur. Kelihatannya bergengsi, tapi kenyataannya saya belum pernah benar-benar diterima kerja di kantor. Sejak awal lebih banyak freelance, dari mulut ke mulut,” ujar Dimas saat ditemui di Tempuh Coffee.
Kondisi sulitnya lapangan pekerjaan tersebut, kata Dimas, juga dialami banyak orang di sekitarnya. Dari situ muncul keinginan untuk menciptakan ruang yang tidak hanya menopang kebutuhan ekonomi, tetapi juga memberi kesempatan dan ruang tumbuh bagi banyak orang.
Berangkat dari kegemarannya terhadap kopi serta kebutuhan akan ruang kerja yang nyaman, Dimas bersama rekannya memulai usaha secara sederhana dari rumah dengan menjual kopi literan. Respons positif pelanggan menjadi modal keberanian mereka untuk membuka kedai secara fisik.

“Awalnya belum buka coffee shop. Masih dari rumah, jual literan. Banyak yang bilang enak, akhirnya kami berani buka tempat,” katanya.
Nama Tempuh dipilih dengan filosofi tersendiri. Menurut Dimas, setiap orang memiliki tahapan dan jalannya masing-masing dalam hidup.
“Setiap orang menempuh fase yang berbeda—remaja, dewasa, berkeluarga, sampai tua. Harapannya, ruang ini bisa menampung semua fase itu,” ujarnya.
Filosofi tersebut tercermin dalam pengelolaan Tempuh Coffee yang mengedepankan prinsip inklusivitas. Tidak ada sekat eksklusif, baik bagi pengunjung maupun pekerja. Tempuh membuka peluang kerja bagi siapa saja, termasuk mereka yang belum memiliki pengalaman.
“Selama attitude-nya baik dan ada kemauan belajar, kami akomodasi. Kita latih satu sampai dua minggu. Banyak barista di sini awalnya belum punya pengalaman sama sekali,” tutur Dimas.
Ia mencontohkan salah satu barista yang sebelumnya bekerja sebagai asisten rumah tangga dan kini tengah menempuh pendidikan Paket C.
“Dia bilang kalau terus jadi ART, dia merasa tidak berkembang. Di sini kami beri kesempatan,” ucapnya.
Selain berfungsi sebagai kedai kopi, Tempuh Coffee juga dimanfaatkan sebagai ruang kerja gratis, tempat diskusi, meeting klien, hingga wadah bagi pelaku UMKM dan kreator kecil.
“Kalau ada yang punya usaha sendiri, mau bikin konten di sini, silakan. Kami ingin Tempuh jadi jembatan,” kata Dimas.
Lokasi Tempuh Coffee yang berdekatan dengan ITB juga memiliki nilai emosional tersendiri bagi Dimas. Sejak SMA, ia memiliki mimpi untuk berkuliah di kampus tersebut, meski harus melalui perjalanan panjang dan berliku.
“Waktu SMA saya bolak-balik Brebes–Bandung buat bimbel ITB, tapi belum lolos. Daftar UGM juga tidak keterima. Akhirnya S1 di UII Jogja, lalu S2 baru diterima di ITB. Itu semua proses menempuh,” kenangnya.
Kini, selain mengelola Tempuh Coffee, Dimas masih aktif berkarya di bidang arsitektur dan urban design sebagai tenaga ahli lepas, termasuk terlibat dalam sejumlah proyek perencanaan di Jawa Barat.
“Coffee shop ini jadi ruang saya untuk terus berproses, sambil berjalan ke tujuan utama, yaitu membangun studio arsitektur,” pungkasnya.
Dengan pendekatan inklusif dan filosofi perjalanan hidup, Tempuh Coffee hadir bukan sekadar sebagai tempat ngopi, melainkan ruang bersama bagi siapa pun yang tengah menempuh jalannya masing-masing.
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






