ADVERTISEMENT
KORANMANDALA.COM – Candi Cangkuang, situs bersejarah yang terletak di Desa Cangkuang, Kecamatan Leles, Kabupaten Garut, merupakan saksi bisu peradaban Hindu sekaligus perkembangan Islam di wilayah Priangan Timur. Hingga kini, kawasan tersebut masih terawat dengan baik dan menyimpan potensi besar sebagai destinasi wisata edukasi.
Candi Cangkuang berada di tengah Situ Cangkuang dan dikelilingi bentang alam yang asri serta udara sejuk khas pedesaan. Untuk mencapai lokasi candi, pengunjung harus menyeberangi danau menggunakan rakit bambu, kendaraan tradisional yang menjadi daya tarik tersendiri.
Sebelum memasuki kawasan candi, pengunjung akan disambut tujuh sumber mata air kehidupan yang berada di kawasan Kampung Pulo. Kampung adat ini terdiri dari enam rumah adat dan satu surau yang hingga kini masih dihuni oleh keturunan Embah Dalem Arief Muhammad, tokoh penyebar agama Islam di Kabupaten Garut.
ADVERTISEMENT
Terima Kunjungan Investor, Bupati Garut Sambut Rencana Investasi PT Ennova Apparel Group
Selain candi dan makam tokoh penyebar Islam, wisatawan juga dapat menelusuri sejarah dan berbagai artefak melalui museum yang berada di kawasan situs tersebut.
Berdiri di atas lahan seluas sekitar 25,5 hektare, kawasan Candi Cangkuang merepresentasikan perpaduan budaya Hindu dan peradaban Islam. Dengan kekhasan rakit sebagai sarana transportasi, lingkungan alam yang tertata, serta nilai sejarah yang kuat, kawasan ini dinilai layak menjadi destinasi unggulan wisata budaya di Garut.
Namun demikian, sejumlah pengunjung menilai masih minimnya promosi menjadi kendala utama berkembangnya jumlah wisatawan. Bahkan, pengunjung dari luar daerah mengaku baru mengetahui keberadaan Candi Cangkuang secara terbatas.

Salah seorang pengunjung asal Samarang, Kabupaten Garut, MT (25), menilai promosi kawasan wisata tersebut masih kurang optimal.
“Menurut saya promosinya masih kurang. Padahal ini situs bersejarah yang unik karena berada di tengah danau. Alamnya tertata dan masih terjaga. Kalau bisa ditambah juga arena bermain anak supaya anak-anak tidak cepat bosan,” ujarnya.
Hal senada disampaikan pedagang suvenir di kawasan tersebut, NN (60). Ia mengaku jumlah pengunjung masih sepi di hari biasa dan baru ramai saat akhir pekan atau hari libur.
“Sehari-hari sepi, paling ada yang mampir dan belanja sedikit. Ramai itu hanya saat hari libur. Saya berharap pengunjung bisa lebih banyak datang supaya ekonomi kami di sini ikut meningkat,” katanya.
Melihat kondisi tersebut, Candi Cangkuang dinilai membutuhkan strategi promosi yang lebih masif dan berkelanjutan agar informasi tentang nilai sejarah dan keindahan alamnya dapat menjangkau masyarakat luas. Dengan promosi yang tepat, kawasan ini diyakini mampu mendorong pertumbuhan ekonomi warga sekitar sekaligus memperkuat identitas budaya Garut.
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






