KORANMANDALA.COM – Kawasan Lengkong Kecil, Kota Bandung, kini berkembang bukan hanya sebagai destinasi wisata kuliner malam, tetapi juga sebagai ruang hidup seni dan budaya yang memberi identitas kuat bagi kawasan tersebut. Di tengah deretan pedagang makanan yang ramai sejak petang, seni tradisi hadir menyatu dengan denyut ekonomi dan arus wisatawan.
Lengkong Kecil Kuliner Night mulai dipadati pengunjung sejak pukul 18.00 WIB, dengan puncak keramaian terjadi pada akhir pekan. Puluhan pedagang kaki lima dan tenant kuliner berjajar di sepanjang ruas jalan, menyajikan beragam pilihan, mulai dari jajanan tradisional khas Bandung hingga kuliner kekinian.
Namun daya tarik Lengkong Kecil tidak berhenti pada kuliner. Kehadiran pertunjukan seni tradisi membuat pengunjung tak sekadar datang untuk makan, tetapi juga bertahan lebih lama menikmati suasana. Di ruang terbuka inilah Rampak Budaya Lengkong tumbuh sebuah inisiatif mandiri para seniman dan budayawan.
Tanpa panggung permanen dan tanpa sekat dengan penonton, para seniman menampilkan beragam kesenian, seperti rajah, jaipongan, pencak silat, debus, hingga musik karinding celempungan. Pertunjukan digelar di pinggir jalan, dekat dengan aktivitas warga dan wisatawan.
Pecinta budaya, Deden Purwanjaya, menilai kehadiran seni tradisi di Lengkong Kecil menjadi upaya penting menjaga ruh kawasan agar tidak larut menjadi sekadar pusat kuliner.
“Budaya adalah penanda identitas. Inilah yang membedakan Lengkong Kecil dari destinasi kuliner malam lainnya di Kota Bandung,” kata Deden, Minggu (4/1/2026).
Deden menuturkan, para seniman yang terlibat tampil tanpa bayaran. Bagi mereka, ruang dan kesempatan tampil di ruang publik sudah menjadi bentuk penghargaan tersendiri.
“Ini mencerminkan realitas seni budaya hari ini. Banyak seniman harus ‘ngemper’ di tengah kota karena minimnya ruang pergelaran. Tapi justru di situlah ketahanan budaya diuji,” ucapnya.
Menurutnya, fenomena budaya ngemper bukan semata soal keterbatasan fasilitas, melainkan cara agar seni tradisi tetap hadir dan dikenali publik. Di tengah minimnya panggung resmi, jalanan menjadi medium pertemuan antara seniman, masyarakat, dan wisatawan.
Ia menilai Lengkong Kecil memberi contoh bagaimana destinasi wisata dapat tumbuh dengan budaya sebagai fondasi, bukan sekadar pelengkap.
“Seni tradisi di sini adalah bagian dari pengalaman wisata. Budaya menciptakan suasana yang hidup, berkarakter, dan beridentitas,” ujarnya.
Konsep wisata berbasis budaya ini, lanjut Deden, diharapkan memberi dampak berkelanjutan bagi pedagang. Wisatawan yang datang untuk menikmati kuliner sekaligus pertunjukan seni cenderung tinggal lebih lama, sehingga perputaran ekonomi rakyat tetap terjaga.
