KORANMANDALA.COM – Dari luar, Babakan Siliwangi (Baksil) tampak seperti ikon baru ruang hijau Kota Bandung. Rapi, modern, dan “instagramable”. Peresmiannya pada Kamis (25/12) seolah menandai kebangkitan kawasan hutan kota yang lama dinanti warga. Namun, beberapa langkah masuk ke dalam, cerita indah itu mulai retak secara harfiah.
Di balik wajah depan yang memikat, jalur Forest Walk justru menyimpan persoalan serius. Papan kayu yang berlubang, retak, bahkan nyaris ambruk menjadi keluhan utama pengunjung. Ironisnya, kondisi ini ramai diperbincangkan justru lewat media sosial, bukan dari papan peringatan di lokasi.
Salah satu unggahan yang viral datang dari akun TikTok @widiales_. Dalam videonya, terlihat jelas papan kayu yang tak lagi kokoh menopang langkah pengunjung.
Libur Nataru Tanpa Tiket Masuk, Kepedulian Pengunjung Banjiri Donasi Bandung Zoo
“Aku lihat pas awal datang, ada orang hampir jatuh karena kayunya ambruk. Bahaya loh ini. Di sepanjang jalan sudah banyak yang berlubang dan retak,” tulisnya.
Indah Dipandang, Rawan Dilangkahi
Pantauan Koran Mandala di lokasi menguatkan keluhan tersebut. Area depan Baksil memang tampil bersih dan tertata. Namun semakin ke dalam, jalur kayu Forest Walk terlihat mulai lapuk. Lumut membuat permukaan licin, sementara lubang-lubang di beberapa titik menjadi jebakan yang tak terlihat, terutama bagi anak-anak dan lansia.
Alih-alih menjadi ruang aman untuk berjalan santai, sebagian jalur justru memaksa pengunjung melangkah ekstra hati-hati.
Siwi (40), pengunjung asal Depok, Jawa Barat, mengaku terkesan dengan konsep hutan kota di tengah Bandung. Namun rasa kagum itu bercampur dengan kekhawatiran.
“Konsepnya sebenarnya bagus banget. Tapi tadi masih ada jalan yang bolong-bolong. Kalau bawa anak kecil, itu cukup bahaya,” ujarnya, Sabtu (3/1).
Ia berharap revitalisasi kawasan tidak hanya mengejar tampilan visual.
“Harapannya jangan cuma depan saja yang diperhatikan. Aspek keselamatan dan kenyamanan di seluruh area itu penting,” katanya.
Keluhan tak berhenti pada kondisi jalur. Minimnya fasilitas penunjang juga menjadi catatan pengunjung.
“Kalau hujan besar, susah mau neduh di mana. Di tengah jalur belum ada tempat berteduh,” tambah Siwi.
Hal serupa disampaikan Rini (30), warga Bandung. Menurutnya, revitalisasi seharusnya juga menyentuh aspek kebersihan dan penataan.
“Ke depannya semoga bisa lebih bersih dan rapi. Tanaman juga perlu ditata ulang biar kelihatan lebih terurus. Soal sampah juga harus lebih diperhatikan,” ucapnya.
Revitalisasi Setengah Jalan?
Babakan Siliwangi kini kembali dibuka dengan harapan besar sebagai ruang hijau publik dan destinasi wisata alam perkotaan. Namun kondisi di lapangan menunjukkan, revitalisasi belum sepenuhnya menjawab kebutuhan dasar pengunjung: aman, nyaman, dan terawat.
Wajah Baksil mungkin sudah “glowing” dari depan. Tapi selama papan kayu di dalam masih rapuh dan fasilitas belum merata, kawasan ini menyimpan pekerjaan rumah besar—yang tak bisa ditutup hanya dengan tampilan estetik.
