ADVERTISEMENT
KORANMANDALA.COM – Bandung kembali punya cara baru untuk menikmati liburan keluarga tanpa harus keluar kota. Di tengah menjamurnya wahana bermain konvensional, Skyward Project hadir sebagai alternatif edutainment yang menawarkan pengalaman berbeda: bermain sambil “bertualang” dalam narasi sejarah, teknologi, dan imajinasi.
Berlokasi di Rooftop 23 Paskal Mall, Skyward Project tidak diposisikan sekadar sebagai arena permainan anak. Tempat ini dirancang menyerupai dunia fiksi yang terinspirasi dari sejarah kawasan Pasir Kaliki—wilayah yang lekat dengan jejak transportasi dan inovasi Bandung tempo dulu.
Public Relations Skyward Project, Tiara Febria, mengatakan konsep utama Skyward berangkat dari gagasan “Old Station”, merujuk pada peran stasiun besar Bandung sebagai simpul teknologi dan pergerakan manusia di masa awal modernisasi kota.
ADVERTISEMENT
Berada di tim Sejak 2016, Pemain Lincah Ini Dikabarkan Akan Dipinjamkan Persib
“Skyward mengambil spirit itu. Interiornya dibuat seperti stasiun tua, selaras dengan lokasinya yang berdekatan dengan Stasiun Bandung,” kata Tiara.
Jejak Pasir Kaliki tidak hanya hadir sebagai cerita, tetapi diterjemahkan ke dalam desain ruang. Unsur “pasir” diwujudkan secara fisik di beberapa area, sementara warna merah yang mendominasi interior terinspirasi dari tanaman kaliki. Perosotan berwarna mencolok pun menjadi ikon visual yang langsung mencuri perhatian.
Yang membedakan Skyward Project dengan wahana sejenis adalah pendekatan naratifnya. Seluruh permainan terhubung dalam satu alur cerita tentang Ferdinand, seorang profesor jenius dari Kota River Sand yang terobsesi pada teknologi hingga menciptakan ancaman bagi kotanya sendiri.
Cerita ini tidak disampaikan secara verbal semata, tetapi dirasakan melalui ornamen, tata cahaya, simbol burung Raktavara, hingga kehadiran Zeppelin raksasa yang menjadi landmark utama wahana.
Dari sisi kenyamanan, Skyward Project tampak serius memanjakan pengunjung. Fasilitas seperti loker besar, kamar mandi lengkap dengan shower, handuk, hair dryer, hingga catokan rambut disediakan—sesuatu yang jarang ditemukan di wahana bermain keluarga.
“Setelah bermain, pengunjung bisa langsung bersih dan lanjut aktivitas di mall,” ujar Tiara.
Skyward juga mengklaim inklusif. Area wahana dapat diakses stroller dan kursi roda, serta ramah bagi penyandang disabilitas. Anak usia dini pun memiliki area khusus yang aman, dengan pendampingan orang tua.
Saat ini, Skyward Project menawarkan enam perosotan—lima untuk dewasa dan satu khusus anak—di area Khaliki Mountain. Dua wahana flying fox bertema Raktavara, yakni Flying Bird dan Flying Human, menjadi favorit pengunjung yang mencari sensasi adrenalin, dengan perbedaan ketinggian dan kecepatan.
Selain itu, pengunjung dapat menjajal mini games interaktif di Hall of Chronicles. Skyward menetapkan tinggi badan minimal 80 cm untuk masuk area wahana, sementara permainan tertentu mensyaratkan tinggi minimal 130 cm.
Menurut Tiara, Skyward Project ingin mengisi celah antara hiburan dan edukasi, khususnya bagi anak-anak di era digital.
“Kami ingin anak-anak tidak hanya bermain, tapi juga terpapar cerita, logika, dan teknologi melalui pengalaman langsung,” ujarnya.
Untuk harga, Skyward Project menetapkan tiket masuk Rp50.000, sementara paket full access unlimited play dibanderol Rp220.000 pada hari biasa dan Rp275.000 saat akhir pekan. Selama Desember, tersedia diskon 10 persen untuk pembelian online.
Skyward Project beroperasi setiap hari pukul 10.00–22.00 WIB. Saat malam tiba, permainan cahaya membuat wahana ini tampil lebih dramatis—menjadikannya bukan hanya tempat bermain, tapi juga spot visual yang Instagramable di tengah Kota Bandung.
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






