KORANMANDALA.COM –Sektor wisata kuda tunggang di Bandung menunjukkan tren penurunan tajam, bahkan sejak sebelum pandemi Covid-19. Kondisi ini membuat para pekerja informal di bidang tersebut semakin rentan secara ekonomi.
Ayi (50), kusir senior yang sudah menekuni profesi ini sejak 1980, menjadi salah satu saksi hidup perubahan drastis tersebut. Ia menuturkan kini hanya tersisa tiga titik layanan kuda tunggang di Bandung, yakni depan ITB, Jalan Cisangkuy, dan area Monumen.
“Kalau ramai bisa dapat Rp300–500 ribu. Tapi kalau sepi, ya tidak dapat apa-apa,” ujarnya.
UP3 Bandung Kawal Listrik Tanpa Kedip Laga Super League Persib Vs Dewa United
Pada hari-hari tanpa penumpang, kuda terpaksa dibawa pulang dan diberi makan dari hasil mencari rumput sendiri kondisi yang mencerminkan belum adanya jaminan sosial maupun perlindungan ketenagakerjaan.
Penurunan jumlah wisatawan juga dirasakan Edi (33), yang sudah bekerja sejak 2003. Menurutnya, pemasukan kini sangat bergantung pada keberuntungan.
“Sekarang jauh lebih sepi. Kami masih sistem bagi hasil dengan atasan dan komunitas dari Lembang, tapi penghasilan makin tidak pasti,” tutur Edi.
Namun ketidakpastian pendapatan membuat pekerjaan ini semakin sulit dilanjutkan oleh generasi baru.
Terkait program KDM yang menyoroti pekerja sektor informal, para kusir berharap pemerintah menghadirkan skema perlindungan yang realistis. “Kami ingin jaminan pekerjaan yang jelas, persyaratan bantuan juga jangan berbelit,” tegas edi
Turunnya minat wisata kuda tunggang bukan hanya soal perubahan gaya wisata, tetapi juga menyangkut keberlanjutan mata pencaharian pekerja kecil.
Tanpa intervensi kebijakan yang tepat sasaran, sektor ini berpotensi hilang bersama para pelakunya yang sudah puluhan tahun menggantungkan hidup dari kuda. (Sarah)
