ADVERTISEMENT
KORANMANDALA.COM –Siapa sangka, tempat yang dulu dikenal angker, gelap, dan penuh cerita mistis kini justru jadi salah satu spot nongkrong paling kece di Karawang?
Ya, begitulah kisah Kampung Budaya Karawang yang kini menjelma menjadi ruang publik yang adem, asri, dan Instagramable.
Dulu, deretan vila tua di kawasan ini sempat terbengkalai dan nyaris ditelan semak. Tak sedikit warga yang menghindari lewat malam-malam karena katanya “ada penunggu.”
ADVERTISEMENT
Wisatawan Asing ke Bandung Menurun, Disbudpar Akui Promosi Internasional Masih Lemah
Tapi pemandangan itu kini tinggal kenangan. Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Karawang telah membongkar bangunan-bangunan tak terpakai itu dan menyulapnya menjadi kawasan terbuka yang ramah warga.
Pembongkaran dilakukan setelah vila-vila tersebut resmi dihapus dari daftar aset pemerintah karena sudah tak layak pakai. Hasilnya di luar dugaan: suasana yang dulu bikin merinding berubah jadi tempat healing favorit warga sekitar.
“Dulu mah serem banget, beneran angker. Waktu bongkar aja sempat ada yang kesurupan, bahkan nemu alat kontrasepsi segala!” cerita Lusi Asela, Kepala Bidang Destinasi Pariwisata Disparbud Karawang, sambil tertawa kecil mengenang masa itu.
“Sekarang mah alhamdulillah rame, banyak orang jualan, jogging, senam padahal cuma dibersihin, nggak pake duit pemerintah.”

Ternyata, rahasianya sesederhana itu bersih-bersih. Begitu semak disingkirkan dan puing dibersihkan, aura mistisnya pun seolah lenyap. Kini, kawasan itu hidup kembali. Di bawah rindangnya pepohonan, warga berkumpul sambil menikmati cilok, es kelapa muda, atau sekadar duduk santai di bangku taman.
Tak hanya warga yang memanfaatkan perubahan ini. Sejumlah budayawan juga ikut menghidupkan kembali semangat lokal dengan mendirikan bale paniisan semacam balai tempat berkumpul, berdiskusi, dan menampilkan ekspresi budaya.
“Banyak pengunjung datang bareng keluarga atau teman untuk bersantai. Ini bagus sekali, bisa meningkatkan indeks kebahagiaan masyarakat Karawang,” ujar Lusi.
Perubahan tak berhenti di situ. Kini para pedagang yang dulu berjualan di pinggir jalan sudah direlokasi ke dalam area Kampung Budaya. Kondisi pasar yang lebih tertib membuat minat berdagang meningkat dan ekonomi warga pun ikut bergerak.
“Sekarang lebih rapi dan nggak ganggu lalu lintas. PAD juga ikut naik dari hasil sewa bangunan,” tambah Lusi.
Pemerintah daerah pun tak ingin berhenti di tahap ini. Disparbud Karawang tengah membuka peluang bagi investor untuk mengembangkan kawasan Kampung Budaya agar menjadi destinasi wisata budaya unggulan di masa depan.
“Atas arahan Pak Bupati, kami sedang mencari investor untuk pengembangan Kampung Budaya. Harapannya, dengan kondisi yang makin tertata, kawasan ini bisa jadi daya tarik bagi para investor,” pungkas Lusi penuh optimisme.
Dari tempat yang dulu disebut “angker”, kini Kampung Budaya Karawang justru menjadi simbol perubahan: bahwa dengan niat dan gotong royong, tempat yang suram pun bisa disulap menjadi ruang yang penuh cahaya tempat warga menemukan ketenangan, kebersamaan, dan secangkir kebahagiaan sederhana.
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






