ADVERTISEMENT
KORANMANDALA.COM – Kebakaran yang menimpa kantor Terra Drone Indonesia, Selasa (9/12) di Jakarta memicu pertanyaan besar tentang keamanan teknologi ini—terutama soal baterai.
Banyak pihak berspekulasi, tapi yang lebih penting adalah memahami: seberapa besar risiko baterai drone, apakah SOP (Standar Operasional Prosedur) sudah cukup, dan sejauh mana operator drone memahami tanggung jawabnya.
Artikel ini tidak bermaksud menyimpulkan penyebab resmi dari insiden yang terjadi. Fokus kami adalah pada konteks teknis dan perilaku: bagaimana risiko muncul, apa yang sudah diatur, dan apakah aturan itu dijalankan di lapangan.
ADVERTISEMENT
Baterai Drone: Ringan, Bertenaga, Tapi Rentan
Drone industri umumnya menggunakan baterai lithium polymer (Li-Po) berkapasitas besar. Baterai jenis ini unggul karena ringan dan padat energi, tapi juga sangat sensitif: suhu tinggi, overcharging, korslet kecil, atau penyimpanan yang salah bisa memicu thermal runaway—kondisi saat baterai memanas terus-menerus hingga terbakar atau meledak.
“Energinya bisa setara bahan bakar padat kalau sudah overload,” ujar seorang teknisi lapangan di Bandung. “Bukan kayak baterai HP.”
Drone industri bisa membawa muatan hingga beberapa kilogram, terbang selama 30–60 menit, dan butuh 1–2 baterai besar setiap kali misi. Artinya, dalam satu kantor, bisa ada puluhan baterai aktif yang tersimpan, semuanya menyimpan energi tinggi.

Dokumen Terra Drone: Standar Perawatan Sudah Disusun
Redaksi koranmandala mendapatkan dokumen pelatihan internal berjudul Drone Maintenance yang dikeluarkan oleh Terra Drone Indonesia. Mereka telah menyusun panduan battery care yang sangat rinci. Beberapa poin penting di dalamnya:
- Baterai harus disimpan dalam kapasitas 40–50% (bukan penuh atau kosong)
- Dilarang mengisi baterai tanpa pengawasan, terutama semalaman
- Wajib menggunakan LiPo bag atau wadah tahan api
- Dilarang memakai baterai yang menggembung, rusak fisik, atau tidak seimbang antar sel
- Operator harus mencatat siklus pengisian, voltase per cell, dan usia baterai
Baterai juga disebut sebagai salah satu komponen paling rawan rusak, dengan masa pakai maksimal 100 siklus. Prosedur ini selaras dengan praktik global dan regulasi keamanan penerbangan.
Namun pertanyaan yang muncul kemudian: apakah semua ini diterapkan sepenuhnya di lapangan?
Profil Terra Drone: Perusahaan Drone Industri Jepang dan Kiprahnya di Indonesia
Suara Lapangan: SOP Hanya Sebaik Konsistensi Pelaksananya
Bowo Rahmanto, salah satu praktisi senior di bidang drone untuk pemetaan, menyebut bahwa SOP-nya sudah cukup lengkap. Tapi menurutnya, banyak potensi risiko justru muncul karena ketidaktahuan atau kelalaian kecil.
“Baterai branded seperti DJI punya fitur peringatan dini. Tapi kalau baterainya rakitan, safety-nya tanda tanya,” ujarnya. Ia juga menyoroti soal penyimpanan saat dibawa bepergian. “Kalau bawa naik pesawat, harus dikosongkan dulu. Itu kadang tidak disadari” ujar Bowo.
Sementara Ian dari Drone Nation di Bandung menyebut angka yang lebih tajam, “Hampir 90% kerusakan baterai itu karena human error. Bukan teknologinya, tapi manusianya.”
Ia menyebut lima kelalaian paling sering terjadi:
- Charging terlalu lama atau ditinggal tidur
- Tidak mengecek kondisi fisik atau cell imbalance
- Menggunakan baterai yang menggembung
- Menyimpan dalam suhu ekstrem atau lembap
- Tidak mencatat umur pakai dan voltase

Seorang operator anonim menambahkan, “Risiko bukan di langit. Justru di darat—waktu drone disimpan dan puluhan baterai dicolok bareng di ruangan kecil.”
Mengenal Komponen Drone Pemetaan: Konteks Teknologi di Balik Insiden Terra Drone Indonesia
Teknologi Tidak Bisa Gantikan Kesadaran
Drone modern memang memiliki proteksi canggih—auto shutoff, pengingat overheating, dan pemantau sel. Namun, semua teknologi itu gagal jika pengguna mengabaikan prosedur dasar. Misalnya:
- Mengecas di meja kayu dekat tumpukan dokumen
- Tidak memisahkan baterai aktif dari baterai rusak
- Tidak menyimpan di LiPo bag karena “lupa”

Dokumen Terra Drone sudah menyebut ini semua. Tapi seperti kata salah satu teknisi: “SOP itu ibarat helm. Dipakai bukan karena dilarang, tapi karena sadar risikonya.”
Sementara itu, Ferri Firmansyah, salah satu pengusaha di bidang geospasial yang sering menggunakan drone menjawab “Ada, cuma biasanya sama karyawan sianggap sepele” saat koranmandala menanyakan perihal SOP penanganan baterai drone.
Transformasi Bidang Geospasial dari ILASPP hingga AI Bersama Sekretaris Dirjen SPPR
Belajar dari Kasus, Bangun Budaya Keselamatan
Insiden seperti yang terjadi di kantor layanan drone tidak boleh hanya jadi berita satu hari. Ia harus menjadi pemantik untuk mengevaluasi: apakah kita punya SOP yang kuat, dan apakah kita menjalankannya setiap hari?
Sebagai contoh, Terra Drone Indonesia sudah menyusun pedoman battery care yang memadai. Namun, SOP hanya sekuat pelaksanaannya. Budaya keselamatan harus dibangun bukan saat terjadi krisis, tetapi sebelum ada insiden.
Sebagai pengguna teknologi berenergi tinggi, operator drone memikul tanggung jawab besar—dan seperti ditunjukkan oleh para praktisi: risiko besar sering datang dari kebiasaan kecil yang disepelekan.
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






