ADVERTISEMENT
KORANMANDALA.COM –Nama Bojan Hodak dipastikan akan tercatat dengan tinta emas dalam sejarah PERSIB Bandung. Pelatih asal Kroasia itu sukses membawa Pangeran Biru mencetak sejarah sebagai klub pertama yang meraih tiga gelar juara secara beruntun di kasta tertinggi sepak bola Indonesia sejak era Liga Indonesia.
Tiga musim penuh dinamika, tekanan, dan ekspektasi tinggi berhasil dijawab Hodak dengan prestasi luar biasa. Namun, mulai musim depan, tongkat estafet kepelatihan akan diserahkan kepada sang asisten, Igor Tolic, sementara dirinya beralih ke peran baru sebagai Penasihat Teknik klub.
Bagi Hodak, kesuksesan besar yang diraih PERSIB bukan hasil kerja satu orang. Ia menyebut pencapaian itu lahir dari kekompakan seluruh elemen klub sejak dirinya pertama kali menginjakkan kaki di Bandung.
ADVERTISEMENT
Sejumlah Kejadian Warnai Pawai Persib, Edwin Senjaya Soroti Moral Generasi Muda Kota Bandung
“Saya beruntung saat pertama kali tiba di sini, saya menemukan sekelompok orang yang sangat baik di dalam klub. Tiba-tiba semua orang mulai bekerja sama dan begitulah cara kami memenangkan trofi pertama dan kedua,” ujar Hodak.
Namun, jalan menuju gelar ketiga jauh dari kata mudah. Musim terakhir justru menjadi tantangan terbesar bagi pelatih berusia 55 tahun tersebut. Perombakan besar-besaran skuad membuat PERSIB harus mengganti 23 dari total 31 pemainnya—sebuah perjudian besar yang ternyata berbuah manis.
Di tengah agresivitas klub rival seperti Borneo FC dan Persija Jakarta yang melakukan investasi besar, Hodak tetap mampu menjaga konsistensi Maung Bandung di jalur juara.
“Tahun terakhir ini benar-benar sulit bagi kami. Menghasilkan pencapaian seperti ini lagi di tengah ketatnya investasi besar dari kompetitor seperti Borneo FC dan Persija Jakarta adalah sesuatu yang fantastis. Saya sangat senang kami bisa mengumpulkan poin terbanyak dalam tiga tahun ini,” katanya.
Tak hanya bicara soal prestasi di lapangan, Hodak juga mengungkapkan kekagumannya terhadap loyalitas bobotoh yang menurutnya menjadi alasan utama PERSIB tumbuh menjadi salah satu klub terbesar di Asia Tenggara.
Ia menegaskan, PERSIB adalah institusi besar yang akan terus berjalan, melampaui siapa pun sosok pelatih maupun pemain yang datang dan pergi.
“Klub ini lebih besar daripada pelatih manapun atau pemain manapun. Akan selalu ada pemain dan pelatih baru, namun klub akan tetap terus berjalan dengan baik,” tegasnya.
Secara khusus, Hodak memberikan apresiasi atas kedewasaan bobotoh pada laga terakhir musim ini. Ia menilai atmosfer stadion yang tetap kondusif tanpa petasan maupun aksi penyusupan ke lapangan menjadi pertanda positif bagi masa depan sepak bola Indonesia.
Menurutnya, situasi seperti itu penting untuk menciptakan stadion yang nyaman dan aman bagi keluarga.
Meski meninggalkan kursi pelatih kepala, Hodak memastikan dirinya belum sepenuhnya berpisah dengan PERSIB. Dalam peran baru sebagai Penasihat Teknik, ia mengaku masih akan berada di sekitar klub, meski untuk sementara memilih beristirahat karena alasan pribadi.
“Saya masih butuh sedikit istirahat karena alasan pribadi. Tapi, saya akan tetap berada di sekitar sini (PERSIB) dan siap membantu memberikan saran atau masukan kapan pun manajemen membutuhkan sesuatu, terutama pada aspek-aspek yang masih bisa ditingkatkan,” ucapnya.
Di akhir testimoninya, Hodak mengingatkan bahwa tantangan PERSIB ke depan justru akan semakin berat. Status sebagai juara tiga musim beruntun akan menjadikan Maung Bandung target utama seluruh kontestan Liga Indonesia.
“Tekanannya akan lebih besar. Ketika Anda menang tiga kali, semua orang pasti punya motivasi ekstra untuk mengalahkan Anda. Itu normal, tapi saya yakin klub ini mampu mengatasinya,” pungkasnya.
Warisan Bojan Hodak kini bukan sekadar trofi. Ia meninggalkan standar tinggi, mental juara, dan fondasi kuat bagi PERSIB untuk tetap berjaya di masa depan.
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT





