ADVERTISEMENT
KORANMANDALA.COM –Persib Bandung memang menang 1-0 atas Ratchaburi FC di Stadion Gelora Bandung Lautan Api, Selasa (18/2/2025). Namun kemenangan itu tak berarti apa-apa. Pangeran Biru tetap tersingkir dari ajang AFC Champions League Two (ACL 2) karena agregat gol menjadi 3-1.
Yang lebih menyakitkan, malam yang seharusnya menjadi perpisahan terhormat justru berubah menjadi panggung aksi memalukan.
Sejumlah bobotoh nekat turun ke lapangan. Ada yang berlari, ada yang mengejar wasit. Sebuah tindakan emosional yang bukan hanya tak berguna, tapi berpotensi menjadi bumerang bagi klub sendiri.
ADVERTISEMENT
Eko Maung: Pasti Berbuah Sanksi!
Pengamat sepak bola nasional Eko Maung tak tinggal diam. Lewat media sosial pribadinya, ia menyentil keras aksi tersebut.
“Kelakuan sekelompok bobotoh yang masuk lapangan pasti akan berbuah sanksi.”
Menurutnya, tindakan itu sama sekali tidak membela Persib.
“Sudahlah, ngapain sih masuk lapangan, ngejar-ngejar wasit. Tindakan tadi nggak ada gunanya. Persib pun tidak merasa terbela, malah sangat dirugikan.” Tamparan keras.
Di level Asia, setiap insiden terekam, terdokumentasi, dan dinilai. AFC bukan Liga Tarkam. Ada regulasi, ada hukuman.
Alih-alih menunjukkan kelas sebagai suporter besar, aksi tersebut justru memperkuat stigma lama.
“Reputasi suporter terburuk di Asia Tenggara akan semakin terkonfirmasi,” tulis Eko.
Kalimat itu pedas. Tapi sulit dibantah.
Masalah wasit? Itu cerita lama.
“Kalau masalah wasit, itu sudah terjadi sejak puluhan tahun lalu. Tidak bisa dijadikan alasan pembenaran.”
Sepak bola selalu punya kontroversi. Tapi tidak semua kekecewaan harus dibayar dengan aksi anarkis.
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT





