Kamis, 26 Februari 2026 16:07

KORANMANDALA.COM –  bawa kabar baik dan buruk jelang 2025

Duel antara Timnas U-23 Indonesia dan Vietnam selalu menyajikan tensi tinggi, terutama setelah hasil pahit di final ASEAN U-23 Championship 2025.

Dalam konferensi pers sesudah kekalahan itu, Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, menyebut satu faktor kunci, yakni cedera dua gelandang inti, Arkhan Fikri dan Toni Firmansyah.

Jelang Hadapi Lion City Sailors, Beckham Putra Ambil Pelajaran

Kondisi tersebut jelas melemahkan struktur tengah Garuda Muda dan memberi dampak besar terhadap gaya serang Indonesia.

Dampak Positif bagi Vietnam

  1. Peluang Taktis Lebih Terbuka
    Dengan absennya Arkhan dan Toni, Vietnam bisa mengeksploitasi area tengah lebih mudah. Media Vietnam bahkan optimistis pelatih Kim Sang-sik akan memaksimalkan celah ini dan membuat Indonesia tertekan di final turnamen-turnamen besar.

  2. Keyakinan Media Lokal
    Media Vietnam menempatkan tim U-23 mereka sebagai kandidat juara SEA Games 2025, terutama setelah gelar ASEAN U-23 Championship.

  3. Tekanan Tambahan dari Rival
    Indonesia menyadari bahwa mereka harus tampil lebih solid dan disiplin. Tapi dengan lini tengah yang pincang, tekanan mental dan fisik kian menumpuk.

Sisi Risiko untuk Vietnam

Meskipun cedera Indonesia memberi keuntungan, Vietnam tak bisa lengah:

  • Ambisi Balas Dendam
    Kekalahan di final ASEAN U-23 sebelumnya menyisakan dendam. Beberapa media Indonesia bahkan menyoroti pesannya: Indra Sjafri dan anak asuhnya siap mengalahkan Vietnam di ajang berikutnya.

  • Motivasi Tambahan dari Garuda Muda
    Cedera bukan kata menyerah. Tanpa dua gelandang kunci, Indonesia bisa berubah menjadi tim yang lebih agresif, penuh semangat, dan siap mengejutkan.

Proyeksi SEA Games 2025

Jelang SEA Games 2025, kondisi cedera ini bisa jadi “pedang bermata dua”:

  • Vietnam: Memiliki peluang lebih besar untuk mendominasi lini tengah, terutama jika bisa menjaga konsistensi permainan.

  • Indonesia: Meski menantang, skuat Garuda bisa tampil dengan determinasi tinggi untuk membuktikan bahwa mereka bisa berjuang tanpa pemain inti.

Pertarungan ini bukan hanya soal fisik, melainkan juga mental dan strategi. SEA Games 2025 bisa menjadi panggung pembuktian bagi keduanya.*

Exit mobile version