ADVERTISEMENT
Narasi kecurangan yang digaungkan oleh PSSI selama kualifikasi hanyalah penutup kegagalan dari dalam. Adu argumen soal pemilihan wasit, jadwal pertandingan, dan tekanan luar negeri memang menarik untuk diperdebatkan.
Tapi fakta di lapangan berkata sebaliknya. Indonesia tak mampu menjaga konsistensi, membuat keputusan starting XI yang tak tepat, dan gagal mencetak gol saat dibutuhkan.
Kekalahan dari Arab Saudi dan Irak tidak bisa hanya dibebankan pada faktor eksternal. Keputusan taktis Kluivert banyak dikritik karena dianggap asal pilih pemain dan meremehkan lawan.
ADVERTISEMENT
Waketum PSSI Tak Tahu Alasan Kluivert Langsung Pulang ke Belanda
Ketika strategi tidak dijalankan dengan matang, semua persiapan yang sebelumnya digembar-gemborkan hilang dalam sekejap.
Evaluasi Menuntut Tanggung Jawab
Kini, sudah saatnya PSSI dan Kluivert menerima konsekuensi dari kegagalan ini. Evaluasi menyeluruh harus dilakukan.
Mulai dari struktur organisasi, pemilihan pelatih, sistem pengembangan pemain muda, hingga keberanian untuk mendengar kritik.
Suporter telah bersuara. Media telah menyoroti. Saatnya PSSI bertindak nyata. Jika hanya “evaluasi lip service,” maka mimpi sepakbola Indonesia tetap akan terbatas pada retorika saja.
Menatap Masa Depan: Harapan di Piala AFF dan Piala Asia
Meskipun kegagalan ini menyakitkan, bukan berarti menyerah. Indonesia masih bisa bangkit lewat kompetisi regional seperti Piala AFF 2026 dan mempersiapkan skuat matang untuk Piala Asia.
Fokus pada pembangunan akar anak muda dapat menjadi jalan keluar agar generasi Garuda berikutnya lebih tangguh dan matang.*
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






