Jumat, 27 Februari 2026 6:21

KORANMANDALA.COM –Jumat, 27 Februari 2026. Bandung di hari Jumat biasanya punya frekuensi yang unik—percampuran antara semangat ibadah dan lelahnya rutinitas sepekan. Di hari kesembilan ini, kita mungkin mulai merasakan “suara-suara” luar yang menuntut banyak hal. Namun, sebenarnya sedang mengundang kita untuk melakukan perjalanan paling jauh yang pernah ditempuh manusia: perjalanan ke dalam diri.

Jadwal Imsakiyah 9 Ramadhan 1447 H (Bandung & Sekitarnya)

Bagi Anda yang sedang meniti jalan pulang atau masih berjibaku dengan tugas di hari Jumat yang berkah ini:

Ibadah
Waktu (WIB)
Magrib (Buka Puasa)
18.16
Isya
19.22
Imsak (Sabtu, 28 Feb)
04.29
Subuh (Sabtu, 28 Feb)
04.39

Pukul 18.16 WIB nanti, saat lisan basah oleh air, biarkan hati juga “basah” oleh kesadaran bahwa kita masih dijaga oleh-Nya untuk tetap melangkah.

Istiqomah Adalah Jangkar Hati

Dalam kearifan tasawuf, sering dikatakan bahwa istiqomah itu lebih mulia dari seribu keajaiban. Mengapa? Karena keajaiban sejati bagi seorang hamba bukanlah saat dia bisa terbang, tapi saat hatinya tetap diam dan tenang (tumaninah) meskipun dunia di sekelilingnya sedang badai.

Sering kali, kita mencari Tuhan di tempat-tempat jauh, padahal Al-Quran telah mengingatkan:

“Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.” ($QS. Qaf: 16$)

Istiqomah adalah “jangkar”. Tanpa jangkar, sebuah kapal akan terombang-ambing oleh arus tren, emosi sesaat, dan pendapat orang lain. Dengan beristiqomah, kita sebenarnya sedang membangun rumah di dalam hati—sebuah tempat di mana kita bisa selalu pulang dan menemukan ketenangan, terlepas dari apa pun yang sedang terjadi di luar sana.

Perjalanan ke Dalam Diri: Menemukan Titik Diam

Transformasi diri tidak butuh perjalanan ke gunung atau hutan. Cukup masuk ke dalam batin melalui pintu kesadaran. Tengoklah bapak penarik becak di sudut Jalan Kepatihan yang memejamkan mata di sela menanti penumpang; ia seolah sedang “pulang” ke dalam dirinya sendiri di tengah bisingnya klakson kota.

Cobalah praktik ini sambil menunggu pukul 18.16 WIB nanti:

  • Periksa “Suara” Batin: Coba bedakan mana suara ego (yang selalu menuntut, membandingkan, dan merasa kurang) dengan suara nurani (yang tenang dan selalu mengajak pada kebaikan). Istiqomah dimulai saat kita memilih untuk lebih sering mendengar nurani. Seperti firman-Nya: “…dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?” ($QS. Az-Zariyat: 21$)

  • Seni Melepaskan: Dalam perjalanan batin, sering kali kita tidak butuh “menambah” sesuatu, tapi justru “melepaskan”. Lepaskan dendam, lepaskan keinginan dipuji, lepaskan kecemasan akan masa depan. Biarkan hatimu kosong dari selain-Nya agar ketenangan bisa hadir sepenuhnya.

  • Menemukan Frekuensi Syukur: Istiqomah paling mudah dirawat dengan syukur. Saat lelah menyergap, temukan satu hal kecil di dalam dirimu yang masih berfungsi baik: napas, detak jantung, atau sekadar kemampuan untuk merasa lapar. Itulah tanda cinta Allah yang tak pernah putus.

Konsistensi batin adalah bukti bahwa kita tidak lagi mengejar “perasaan senang” dalam beribadah, tapi mengejar Sang Pemilik Ketenangan. Jika hari ini langkahmu terasa berat, tidak apa-apa. Teruslah berjalan ke dalam. Karena di sana, di kedalaman hatimu, Allah selalu menunggumu dengan cinta yang tak pernah berubah.

Selamat melanjutkan puasa, warga Bandung. Semoga perjalanan ke dalam diri hari ini menjernihkan mata batin kita. (FMA)

Penulis di Koran Mandala dengan kajian Pernak-pernik Bandung, Pendidikan, Geospasial, dan Sepakbola.

Exit mobile version