ADVERTISEMENT
KORANMANDALA.COM – Langkahnya pelan, namun tak pernah ragu. Di bawah terik matahari yang menggantung tanpa belas kasihan di atas Jalan Citarum, Kota Bandung, seorang perempuan berusia 58 tahun menyusuri trotoar dengan tas merah di punggungnya. Tangannya menggenggam plastik-plastik berisi kerupuk ikan, makaroni, dan lagenan.
Namanya Ibu Lilis. Tak ada yang istimewa dari penampilannya. Sandal sederhana, kerudung yang melindungi wajahnya dari panas, dan senyum tipis yang nyaris tak pernah benar-benar lepas. Namun di balik langkah kecilnya, tersimpan perjalanan panjang tentang bertahan hidup.
Perjalanan Ibu Lilis menjadi pedagang asongan bukan cerita baru, tetapi bab pentingnya dimulai saat pandemi Covid-19 melanda. Ketika jalanan Kota Bandung mendadak lengang dan orang-orang lebih memilih berdiam di rumah, ia justru keluar membawa tisu dan masker untuk dijajakan.
ADVERTISEMENT
Jadwal Buka Puasa Bandung 7 Ramadhan: Mode “Incognito” ke Langit
Di saat banyak orang takut pada virus yang tak kasatmata, Ibu Lilis takut pada dapur yang tak lagi berasap.
Waktu terus berjalan. Pandemi mereda. Kota kembali hidup. Namun kehidupan Ibu Lilis tak serta-merta menjadi ringan.
Ia dan suaminya sempat beralih menjual kopi. Sebuah ikhtiar kecil agar tetap bisa bertahan. Tetapi Ramadan membawa cerita berbeda. Di bulan puasa, dagangan kopi sepi pembeli. Maka ia kembali mengasong.
“Iya, ini bikin sendiri. Saya beli yang mentahnya dulu, terus digoreng di rumah. Jadi dari rumah sudah siap bawa buat dijual di jalan,” tuturnya, Selasa (24/2/2026), sambil merapikan plastik dagangan di tangannya.
Kerupuk-kerupuk itu digoreng di rumahnya di kawasan Laswi. Dari dapur sederhana, ia menyiapkan harapan untuk dijajakan seharian penuh.
Di usia yang tak lagi muda, Ibu Lilis masih harus berjalan dari satu sudut kota ke sudut lainnya. Bukan untuk menabung masa depan mewah, bukan untuk mengejar impian besar.
Ia berjalan demi makan hari ini.

“Untuk kebutuhan sehari-hari saja, Neng. Soalnya kalau enggak jualan ya enggak ada uang buat makan. Jadi mau enggak mau harus tetap jalan, walaupun capek,” katanya lirih.
Ia memiliki tiga anak. Dua telah menikah. Satu baru lulus SMA. Suaminya masih bekerja, tetap menjual kopi meski pembeli kian jarang saat puasa.
“Suami masih ada, masih kerja juga jualan kopi. Cuma kalau lagi puasa begini, jualan kopi itu susah lakunya. Jadi saya ikut bantu cari tambahan dari jualan kerupuk begini,” ujarnya.
Ramadan bagi sebagian orang adalah bulan penuh berkah dan hidangan melimpah. Bagi Ibu Lilis, Ramadan berarti langkah lebih panjang dan tenaga yang harus diperas lebih keras.
Ia berangkat selepas Subuh, sekitar pukul enam pagi. Berharap dagangannya habis sebelum matahari terlalu condong ke barat agar ia bisa pulang lebih cepat dan menunaikan tarawih di rumah.
“Kalau dagangan cepat habis, saya bisa pulang sore, masih sempat tarawih di rumah,” katanya.
Penghasilan hariannya tak pernah pasti. Kadang habis terjual, kadang masih ada sisa yang harus dibawa pulang. Namun bagi Ibu Lilis, cukup bukan soal angka.
Cukup adalah ketika ia bisa membeli beras.
“Penghasilan mah enggak tentu. Kadang habis, kadang masih ada sisa. Tapi kalau sudah bisa beli beras sama lauk buat di rumah, itu juga sudah alhamdulillah sekali,” ucapnya dengan senyum tipis yang menyimpan kelelahan.
Di tengah riuh kendaraan dan orang-orang yang berlalu-lalang tanpa sempat menoleh, Ibu Lilis berdiri sebagai potret kecil ketahanan keluarga sederhana di Kota Bandung.
Ia tak banyak mengeluh. Tak menuntut apa-apa. Harapannya pun sesederhana hidup yang ia jalani.
“Kalau harapan mah sederhana saja. Yang penting kebutuhan sehari-hari cukup dulu. Syukur-syukur bisa nabung sedikit buat pulang kampung ke Tasik nengok orang tua di sana,” katanya pelan.
Tasikmalaya. Kampung halaman yang belum tentu bisa ia kunjungi dalam waktu dekat. Sebuah rindu yang harus menunggu hingga dagangan benar-benar memberi ruang untuk menabung.
Di ujung percakapan, tak ada amarah, tak ada keluhan panjang. Hanya kepasrahan yang ia peluk sebagai kekuatan.
“Ya dijalani saja. Pasrah sama keadaan, yang penting masih bisa jualan, masih bisa makan. Saya mah begitu saja sudah cukup.”
Lalu ia kembali melangkah. Menyusuri Jalan Citarum, menyatu dengan lalu lintas Kota Bandung yang tak pernah benar-benar berhenti.
Tas merah di punggungnya bergoyang kecil mengikuti irama langkahnya. Di dalamnya bukan sekadar kerupuk, makaroni, atau lagenan.
Di dalamnya ada ketabahan.
Dan setiap hari, ketabahan itu ia jajakan bersama harapan.
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






