Kamis, 26 Februari 2026 8:09

KORANMANDALA.COM pada abad ke-18 bukan hanya panggung pergolakan politik. Kota ini juga menjadi ruang eksperimen sosial yang melahirkan satu institusi modern yang hari ini kita anggap biasa: restoran.

Banyak orang mengira restoran tumbuh secara alami dari penginapan tradisional. Namun, sejumlah kajian menunjukkan bahwa restoran justru lahir sebagai respons terhadap sistem makan komunal yang kaku dan minim pilihan.

Dari “Restorative” ke Restoran Modern

Secara etimologis, kata restaurant pada awalnya tidak merujuk pada tempat, melainkan pada hidangan. Dalam bahasa Prancis, restaurer berarti “memulihkan”. Istilah itu digunakan untuk menyebut kaldu bergizi yang diyakini mampu memulihkan tenaga.

Pada sekitar 1765, seorang pengusaha bernama Mathurin Roze de Chantoiseau membuka usaha makan di Rue des Poulies, tidak jauh dari Louvre. Alih-alih menyajikan santapan berat seperti di penginapan (table d’hôte), ia menawarkan kaldu unggas dan telur segar yang dianggap lebih ringan dan menyehatkan.

Konsepnya terbilang revolusioner. Dalam sistem table d’hôte, tamu harus makan bersama di meja panjang pada jam yang telah ditentukan, dengan menu yang sudah diputuskan tuan rumah. Tidak ada ruang untuk memilih, apalagi privasi.

Chantoiseau memperkenalkan tiga terobosan penting: meja terpisah bagi setiap pelanggan, kebebasan memilih hidangan dari daftar menu, serta keleluasaan menentukan waktu makan. Pola ini menjadi fondasi restoran modern.

Dalam bukunya The Invention of the Restaurant (2000), sejarawan Rebecca L. Spang dari Indiana University menjelaskan bahwa inovasi tersebut bukan sekadar perubahan dalam cara menyajikan makanan, melainkan transformasi sosial. Makan di luar rumah berubah menjadi pengalaman individual, bukan lagi ritual komunal yang kaku.

Ruang Publik Bernuansa Aristokrasi

Pada dekade 1780-an, model ini disempurnakan oleh Antoine Beauvilliers melalui restorannya, La Grande Taverne de Londres. Ia membawa standar kemewahan aristokrasi ke ruang publik: pelayan berseragam, daftar anggur tertata, serta interior elegan.

Restoran pun bertransformasi. Dari tempat menjual sup “pemulih”, ia menjelma menjadi simbol status sosial.

Filsuf Pencerahan seperti Denis Diderot mencatat pengalaman menikmati makan dengan tenang tanpa harus berbagi meja dengan orang asing. Detail ini penting, karena restoran lahir bersamaan dengan menguatnya gagasan individualisme dalam Eropa modern.

Dijuluki Paris Van Java, Inilah Asal Usul Nama Bandung!

Revolusi Prancis dan Ledakan Industri Kuliner

Ketika Revolusi Prancis meletus pada 1789, dampaknya tidak hanya mengguncang politik. Runtuhnya aristokrasi membuat banyak koki kehilangan patron tetap.

Alih-alih kembali ke kampung halaman, sejumlah koki memilih membuka usaha sendiri. Sejumlah catatan sejarah menyebutkan bahwa sebelum 1789 hanya terdapat sekitar 50 restoran di Paris. Pada dekade 1830-an, jumlahnya telah melampaui 2.000.

Ilustrasi revolusi Perancis abad ke 18 (Wikimedia)

Lonjakan tersebut menandai lahirnya industri hospitality modern. Restoran menjadi simbol kelas menengah kota yang memiliki daya beli, waktu luang, dan kebebasan memilih.

Model yang berkembang di Paris kemudian menyebar ke berbagai kota di Eropa dan Amerika. Konsep menu individual dan meja privat—yang kini menjadi standar restoran modern di seluruh dunia, termasuk di Indonesia—berakar dari inovasi abad ke-18 tersebut.

Lebih dari Sekadar Tempat Makan

Jika ditelusuri lebih jauh, restoran modern bukan sekadar bisnis kuliner. Ia mencerminkan tiga perubahan besar dalam sejarah sosial: menguatnya individualisme, lahirnya ruang publik baru, serta peralihan dari patronase aristokrat menuju ekonomi pasar.

Setiap kali seseorang membuka menu dan memilih hidangan sesuai selera, ia sedang mempraktikkan kebebasan yang dahulu tidak tersedia di meja makan penginapan abad ke-17.

Restoran lahir bukan semata dari kemewahan, melainkan dari kebutuhan akan otonomi. Dan dari meja-meja kecil di Paris itulah, revolusi sosial yang sunyi mulai berlangsung—sebuah perubahan yang dampaknya terasa hingga hari ini. (FMA)

Penulis di Koran Mandala dengan kajian Pernak-pernik Bandung, Pendidikan, Geospasial, dan Sepakbola.

Exit mobile version