ADVERTISEMENT
KORANMANDALA.COM – Paris pada abad ke-18 bukan hanya panggung pergolakan politik. Kota ini juga menjadi ruang eksperimen sosial yang melahirkan satu institusi modern yang hari ini kita anggap biasa: restoran.
Banyak orang mengira restoran tumbuh secara alami dari penginapan tradisional. Namun, sejumlah kajian sejarah menunjukkan bahwa restoran justru lahir sebagai respons terhadap sistem makan komunal yang kaku dan minim pilihan.
Dari “Restorative” ke Restoran Modern
Secara etimologis, kata restaurant pada awalnya tidak merujuk pada tempat, melainkan pada hidangan. Dalam bahasa Prancis, restaurer berarti “memulihkan”. Istilah itu digunakan untuk menyebut kaldu bergizi yang diyakini mampu memulihkan tenaga.
ADVERTISEMENT
Pada sekitar 1765, seorang pengusaha bernama Mathurin Roze de Chantoiseau membuka usaha makan di Rue des Poulies, tidak jauh dari Louvre. Alih-alih menyajikan santapan berat seperti di penginapan (table d’hôte), ia menawarkan kaldu unggas dan telur segar yang dianggap lebih ringan dan menyehatkan.
Konsepnya terbilang revolusioner. Dalam sistem table d’hôte, tamu harus makan bersama di meja panjang pada jam yang telah ditentukan, dengan menu yang sudah diputuskan tuan rumah. Tidak ada ruang untuk memilih, apalagi privasi.
Chantoiseau memperkenalkan tiga terobosan penting: meja terpisah bagi setiap pelanggan, kebebasan memilih hidangan dari daftar menu, serta keleluasaan menentukan waktu makan. Pola ini menjadi fondasi restoran modern.
Dalam bukunya The Invention of the Restaurant (2000), sejarawan Rebecca L. Spang dari Indiana University menjelaskan bahwa inovasi tersebut bukan sekadar perubahan dalam cara menyajikan makanan, melainkan transformasi sosial. Makan di luar rumah berubah menjadi pengalaman individual, bukan lagi ritual komunal yang kaku.
Ruang Publik Bernuansa Aristokrasi
Pada dekade 1780-an, model ini disempurnakan oleh Antoine Beauvilliers melalui restorannya, La Grande Taverne de Londres. Ia membawa standar kemewahan aristokrasi ke ruang publik: pelayan berseragam, daftar anggur tertata, serta interior elegan.
Restoran pun bertransformasi. Dari tempat menjual sup “pemulih”, ia menjelma menjadi simbol status sosial.
Filsuf Pencerahan seperti Denis Diderot mencatat pengalaman menikmati makan dengan tenang tanpa harus berbagi meja dengan orang asing. Detail ini penting, karena restoran lahir bersamaan dengan menguatnya gagasan individualisme dalam Eropa modern.
Revolusi Prancis dan Ledakan Industri Kuliner
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT







