ADVERTISEMENT
KORANMANDALA.COM –Di antara deretan nisan yang berdiri rapat di Jalan Pajajaran, Kota Bandung, waktu seakan melambat. Angin berembus pelan menyapu taburan bunga yang mulai mengering.
Di atas lahan seluas 13,5 hektare yang terbagi dalam 13 blok, ribuan pusara terhampar tanpa suar menyimpan nama, tanggal lahir, dan hari ketika segalanya kembali pada sunyi.
TPU Sinaraga, yang diperkirakan telah ada sejak dekade 1920-an, menjadi salah satu pemakaman Muslim tertua sekaligus terpadat di Kota Bandung. Ia seperti ruang hening yang tak pernah benar-benar sepi.
ADVERTISEMENT
Jelang Ramadan, Ziarah Kubur Meningkat di TPU Sinaraga Bandung
Setiap hari selalu ada langkah yang datang mengantar doa, melepas duka, atau sekadar menengok kenangan.
Di balik padatnya pusara, ada sosok yang hampir separuh hidupnya dihabiskan untuk mengurus kepergian orang lain. Namanya Setia Permana (52). Hampir 40 tahun ia bekerja di TPU Sinaraga.
“Awalnya ikut gali kubur honor. Dulu enggak digaji tetap, seikhlasnya dari ahli waris,” ujarnya saat ditemui, Jumat (13/2/2026).
Ia memulai pekerjaannya sejak remaja. Selama 22 tahun, Setia menggali tanah tanpa kepastian bayaran. Kadang menerima Rp10.000 atau Rp20.000. Tak jarang hanya ucapan terima kasih.
“Enggak ada target. Seikhlasnya saja. Kadang ada yang ngasih, kadang cuma bilang makasih,” katanya, mengenang masa ketika menggali makam adalah soal panggilan, bukan sekadar pekerjaan.
Perubahan datang perlahan. Seiring waktu, sistem pemakaman di Kota Bandung dibenahi. Biaya pemakaman di TPU kini digratiskan oleh pemerintah, termasuk untuk pemakaman non-Muslim. Warga hanya perlu melengkapi administrasi seperti surat pengantar RT/RW dan identitas almarhum serta ahli waris.
Pada 2007, Setia resmi diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Dari pekerja honor tanpa kepastian, ia kini menjadi staf tata usaha sekaligus mandor pemakaman, dengan penghasilan tetap sekitar Rp3,5 juta per bulan.
“Alhamdulillah, sekarang sudah PNS. Lebih terjamin,” ucapnya singkat.
Di TPU Sinaraga, sekitar 31 pegawai P3K bertugas mengelola administrasi dan operasional. Di luar itu, hampir 300 orang menggantungkan hidup sebagai pekerja harian—mulai dari penggali makam hingga pedagang bunga tabur. Di balik keheningan nisan, ada denyut ekonomi yang tak terlihat.
Menjelang munggahan dan Idulfitri, jumlah peziarah meningkat hingga sekitar 50 persen dibanding hari biasa. Namun bagi Setia, kesibukan adalah rutinitas. Ia terbiasa berjaga saat malam takbiran.
“Kalau malam takbiran juga piket. Orang lain takbiran di rumah, saya magrib sudah di makam,” tuturnya.
Pengalaman paling membekas baginya adalah pemakaman malam. Minim penerangan, suara jangkrik, dan doa yang dilantunkan lirih menciptakan suasana yang tak mudah dilupakan. Namun soal cerita mistis, ia hanya tersenyum.
“Alhamdulillah, kalau soal horor saya belum pernah,” katanya.
Bagi Setia, bekerja di pemakaman bukan sekadar mencari nafkah. Setiap liang yang digali adalah pengingat tentang kefanaan. Tentang jarak tipis antara hidup dan kembali.
“Saya juga akan kembali kepada Tuhan. Asalnya dari Allah, kembali ke Allah. Enggak tahu nanti di mana tempatnya,” ucapnya pelan.
Ia juga kerap membantu memandikan jenazah—sebuah tugas yang tak semua orang sanggup lakukan. Kedekatannya dengan kematian justru membuatnya lebih tenang memandang hidup. Tidak ada yang abadi, selain kepastian bahwa setiap yang datang akan pulang.
Di tengah hiruk-pikuk Kota Bandung, TPU Sinaraga tetap menjadi ruang sunyi yang setia mengajarkan makna akhir perjalanan manusia. Dan bagi Setia Permana, empat dekade mengabdi di antara nisan adalah cara paling jujur untuk memahami hidup: bahwa pada akhirnya, semua akan kembali.
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






