ADVERTISEMENT
KORANMANDALA.COM – Setiap pagi, sebelum matahari benar-benar menghangatkan peron Stasiun Bandung, Pak Dadang sudah berdiri di sana. Di antara deru lokomotif, pengumuman keberangkatan, dan langkah tergesa para penumpang, lelaki 58 tahun itu bergerak sigap seolah waktu tak pernah mengejarnya.
Rambutnya selalu tersisir rapi. Seragam merah yang dikenakannya tampak bersih, lengkap dengan name tag bertuliskan Dadang Sulaiman. Di bahunya, kardus besar bertumpu. Satu tangannya menggenggam tas penumpang. Tak ada keluhan, tak ada raut lelah yang dipamerkan. Begitulah Pak Dadang porter paling senior di Stasiun Bandung.
Ia telah mengabdi sejak puluhan tahun lalu. Sejak masih bujangan, hingga kini memiliki dua anak yang sudah beranjak dewasa. Ia menyaksikan stasiun ini berubah: dari tiket kereta jarak jauh seharga Rp10 ribu, kini menembus Rp250 ribu. Namun satu hal yang tak pernah berubah caranya bekerja dengan hati.
ADVERTISEMENT
“Saya di sini paling lama. Dulu masih sendiri, sekarang anak sudah dua,” ujarnya pelan sambil tersenyum, Rabu (4/2/2026). “Dulu harga tiket masih Rp10 ribu. Sekarang sudah ratusan ribu. Alhamdulillah, semua dijalani, semua disyukuri.”
Bagi Pak Dadang, porter bukan sekadar pengangkat barang. Ia adalah wajah pertama yang ditemui penumpang saat tiba di stasiun. Kesan pertama, katanya, adalah segalanya.
“Kita ini pelayanan pertama. Penumpang datang, biasanya nanya ke kita. Jadi harus sopan, ramah. Ditanya mau dibantu atau tidak. Soal harga, itu kembali ke penumpang,” tuturnya.
Sebagai koordinator, Pak Dadang memimpin sekitar 67 porter dalam satu regu. Total ada dua regu—Merah dan Hijau—yang bekerja bergantian selama 24 jam. Sistem shift membuatnya bekerja sekitar 15 kali dalam sebulan. Ritmenya panjang, tenaganya diuji, dan hasilnya tak pernah pasti.

“Di sini enggak ada gaji tetap,” katanya jujur. “Kalau enggak ada yang nyuruh, ya enggak dapat apa-apa. Pernah dua hari cuma dapat Rp100 ribu. Itu juga belum kepotong makan sama ongkos.”
Namun Pak Dadang tetap bertahan. Ia memilih sabar, bahkan ketika harus dimarahi penumpang karena keterlambatan atau kesalahpahaman.
“Penumpang itu raja. Mau kita benar atau salah, tetap kita minta maaf. Kalau berdebat, saya yang kalah,” ucapnya, tanpa nada getir.
Stigma terhadap porter pun pernah ia rasakan tuduhan kehilangan barang, kecurigaan yang melukai kepercayaan. Tapi kini, keberadaan CCTV memberi rasa aman.
“Sekarang ada CCTV. Kalau ada apa-apa, tinggal dibuka rekamannya. Kita kerja jujur, enggak mungkin macam-macam,” tegasnya.
Ia paham betul batas profesional. Barang berharga seperti laptop atau uang, menurutnya, sebaiknya tetap dipegang penumpang.
“Biasanya saya juga langsung tahu. Mana barang yang bisa saya bawa, mana yang enggak,” katanya.
Di usianya yang kian senja, Pak Dadang tak menuntut kemewahan. Harapannya sederhana—sesederhana langkah kakinya di peron setiap hari.
“Keluarga sehat, stasiun makin ramai, penumpang makin banyak. Biar porter juga tetap hidup,” ucapnya lirih.
Menjadi porter, bagi Pak Dadang, bukan sekadar pekerjaan. Ia adalah jalan hidup. Tentang kesabaran yang dipanggul bersama kardus di pundak. Tentang martabat yang dijaga di tengah ketidakpastian. Dan tentang rezeki yang selalu ia jemput, sambil menunggu kereta datang dan pergi.
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






