ADVERTISEMENT
KORANMANDALA.COM –Helm hitam itu menutupi sebagian wajahnya. Jaket ojek online tampak sudah lusuh, menandai ribuan kilometer perjalanan yang telah dilalui.
Di balik penampilannya yang sederhana, Ulianti (50) menyimpan kisah hidup yang jauh dari kata mudah kisah tentang bertahan, beradaptasi, dan berdiri sendiri ketika hidup memaksanya untuk kuat.
Perempuan asal Ciparay, Kabupaten Bandung, itu sudah terbiasa menyusuri jalanan Bandung Raya sejak pagi hingga sore. Bukan karena hobi, melainkan karena kebutuhan.
ADVERTISEMENT
Risiko di Balik Fenomena Kosan Transit Bandung: Antara Mobilitas Tinggi dan Kualitas Kesehatan Ruang
Sejak 2009, Ulianti menjalani hidup sebagai orang tua tunggal setelah perceraiannya. Dua anaknya kini hidup terpisah: anak pertama sudah bekerja di Kalimantan, sementara anak keduanya sedang berjuang mengejar bangku perguruan tinggi negeri di Bandung.
“Saya tinggal sendiri di Ciparay. Anak-anak sudah pada punya jalannya masing-masing,” ujar Ulianti saat ditemui, Selasa (3/3/2026).
Selama bertahun-tahun, Ulianti memikul peran ganda—ibu sekaligus kepala keluarga. Ia sempat bekerja di pabrik, menjalani rutinitas seperti kebanyakan buruh perempuan lainnya. Namun pandemi Covid-19 mengubah arah hidupnya secara drastis. Pabrik berhenti, pekerjaan hilang, usaha rumahan yang dicoba pun tak kunjung memberi hasil.
Di tengah tekanan ekonomi, Ulianti mengambil keputusan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya: menjadi pengemudi ojek online.
“Waktu itu mikirnya cuma satu, yang penting cepat dapat uang. Motor masih ada, badan masih kuat. Ya sudah, ngojek,” tuturnya.

Awalnya, profesi itu hanya ia anggap sebagai jalan singkat untuk bertahan satu hingga dua tahun. Namun waktu berjalan tanpa terasa. Sejak 2022 hingga kini, hampir empat tahun ia hidup dari orderan aplikasi.
“Saya kira cuma sebentar, eh tahu-tahu sudah empat tahun,” katanya sambil tersenyum tipis.
Sebagai pengemudi, Ulianti tak pernah memilih-milih pesanan. Apa pun ia ambil, selama masih sanggup.
“Pernah bawa lemari, pernah juga bawa bibit pohon yang daunnya masih segar. Sampai diketawain orang di jalan,” katanya, tertawa kecil mengingat pengalaman itu.
Namun dari sekian banyak kisah di jalan, ada satu pengalaman yang paling tak biasa—menjadi “mata-mata” customer.
Ulianti mengaku dua kali menerima order yang bukan untuk mengantar orang atau barang, melainkan memantau seseorang.
“Order-nya cuma suruh ngecek. ‘Bu, tolong lihat suami saya ada di alamat itu atau enggak. Kalau ada mobilnya, fotoin aja,’” kenangnya.
Tugasnya sederhana namun janggal. Ia hanya diminta datang ke lokasi, memastikan keberadaan orang atau kendaraan, lalu melapor ke pemesan.
“Datang, lihat ada enggak orangnya, ada enggak mobilnya, terus selesai. Pernah juga disuruh nanyain nomor WhatsApp,” ujarnya.
Bagi Ulianti, order semacam itu terdengar aneh, tapi ia menganggapnya sebagai bagian dari dinamika kehidupan di jalan—tempat berbagai cerita manusia saling bersinggungan.
Soal penghasilan, Ulianti tak pernah memasang target muluk. Dalam sehari, ia bisa mengantongi hingga Rp300 ribu jika ramai. Namun ia memilih realistis.
“Target saya Rp150 ribu. Kalau sudah dapat segitu, ya pulang. Kadang jam tiga sore sudah tembus Rp200 ribu, saya langsung pulang,” katanya.
Di balik semua cerita itu, Ulianti menyimpan prinsip hidup yang lahir dari pengalaman pahit dan panjang.
“Kalau jadi perempuan, jangan tergantung. Harus punya penghasilan sendiri,” tegasnya.
Baginya, kemandirian adalah pegangan paling kuat untuk bertahan.
“Kalau kita bergantung sama laki-laki, terus dia jatuh, kita ikut jatuh. Tapi kalau punya pegangan sendiri, kita tetap bisa berdiri,” ucapnya.
Bagi Ulianti, ojek online bukan sekadar pekerjaan. Ia adalah simbol kebebasan, kemandirian, sekaligus ruang bertahan hidup bagi seorang perempuan yang dipaksa keadaan untuk tangguh.
“Perempuan itu jadi kuat bukan karena mau,” katanya lirih, “tapi karena keadaan.”
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






