ADVERTISEMENT
KORANMANDALA.COM – Es laut di pesisir Greenland kini mencair lebih cepat dari yang pernah dicatat sebelumnya. Jalur berburu tradisional yang selama berabad-abad menjadi tumpuan hidup masyarakat Inuit semakin berbahaya untuk dilalui.
Laporan IPCC Arctic Assessment, seperti dikutip Reuters, mencatat bahwa kawasan Arktik mengalami pemanasan hampir empat kali lebih cepat dibandingkan rata-rata global—perubahan yang langsung dirasakan oleh komunitas pesisir Greenland.
Pada saat yang sama, Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menyeret Greenland ke pusat percakapan geopolitik dunia. Dilansir dari Reuters, dalam sejumlah pernyataan kepada pejabat Eropa pada Januari 2026, Trump menegaskan bahwa Amerika Serikat memiliki kepentingan strategis langsung atas Greenland, terutama terkait keamanan Arktik dan akses terhadap mineral penting. Trump bahkan menyatakan bahwa stabilitas kawasan tersebut tidak lagi bisa sepenuhnya diserahkan kepada Denmark.
ADVERTISEMENT
Masih dilansir Reuters, retorika politik itu berjalan beriringan dengan peningkatan kehadiran militer Barat di kawasan Arktik melalui koordinasi dan latihan NATO di Greenland. Meski tidak secara resmi disebut sebagai upaya aneksasi, tekanan politik Washington terhadap Denmark dan Greenland dinilai banyak pejabat Eropa sebagai eskalasi serius yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Namun di balik pernyataan negara dan manuver kekuatan besar, ada pertanyaan yang jarang dibahas: apa arti semua keputusan itu bagi manusia yang hidup di tanah tersebut?
Bagi masyarakat Inuit, Greenland bukan aset strategis, melainkan ruang hidup yang menopang identitas, ingatan, dan martabat mereka sebagai sebuah komunitas.
Maduro Ditangkap, Donald Trump Luncurkan Operasi Militer di Caracas
Dari Migrasi Purba hingga Akar Identitas Inuit
Orang Inuit bukan penduduk baru di Greenland. Dilansir dari Encyclopaedia Britannica dan kajian arkeologi yang dipublikasikan Smithsonian Institution, leluhur Inuit bermigrasi dari Siberia timur sekitar 4.000–5.000 tahun lalu melalui jalur Arktik, mengikuti pergerakan hewan buruan dan dinamika iklim purba.
Gelombang migrasi terakhir yang membentuk masyarakat Inuit modern dikenal sebagai budaya Thule, yang mencapai Greenland sekitar abad ke-13. Penelitian National Museum of Denmark menunjukkan bahwa kelompok ini membawa teknologi kunci untuk bertahan hidup di lingkungan ekstrem: kayak untuk berburu laut, anjing penarik kereta, serta peralatan berburu paus dan anjing laut. Teknologi tersebut bukan sekadar alat, melainkan fondasi kehidupan sosial dan ekonomi Inuit.

Dilansir dari BBC Future, sejarawan Arktik menjelaskan bahwa ketahanan Inuit tidak dibangun melalui penaklukan alam, melainkan lewat kemampuan membaca dan menyesuaikan diri dengan perubahan es, angin, dan laut. Pengetahuan ini diwariskan secara lisan lintas generasi. Karena itu, perubahan lingkungan dan tekanan industri hari ini tidak hanya mengancam mata pencaharian, tetapi juga memutus sistem pengetahuan yang menopang identitas Inuit selama berabad-abad.
Ketika Kebijakan Global Menyentuh Kehidupan Paling Lokal
Saat ini, sekitar 56 ribu orang tinggal di Greenland, dan lebih dari 80 persen di antaranya adalah Inuit atau Kalaallit. Dilansir dari Statistics Greenland, sebagian besar penduduk masih bermukim di wilayah pesisir dan memiliki ketergantungan tinggi pada laut—baik melalui perikanan, berburu, maupun aktivitas budaya.
Namun perubahan iklim mempercepat pergeseran cara hidup tersebut. IPCC Arctic Assessment, yang dikutip Reuters, mencatat bahwa es laut di sekitar Greenland mencair lebih cepat dibandingkan rata-rata global. Dalam laporan yang sama, pemburu Inuit mengatakan jalur berburu tradisional kini semakin berbahaya karena es yang tidak stabil. Ketidakpastian ini berdampak langsung pada pemenuhan kebutuhan keluarga dan keberlanjutan pengetahuan lokal.
Di saat bersamaan, mencairnya es membuka peluang ekonomi baru. Dilansir dari Financial Times, pemerintah Greenland melihat sektor pertambangan—khususnya mineral tanah jarang—sebagai jalan menuju kemandirian ekonomi dari subsidi tahunan Denmark. Namun laporan The Guardian mencatat bahwa banyak warga Inuit memandang ekspansi tambang dengan ambivalen: membuka lapangan kerja, tetapi juga membawa risiko kerusakan lingkungan dan perubahan sosial yang cepat.
Perubahan paling terasa terjadi di Nuuk. Dilansir dari The Guardian, urbanisasi menarik generasi muda Inuit ke kota untuk pendidikan dan pekerjaan. Namun data Statistics Greenland menunjukkan tantangan sosial serius, termasuk tingginya angka bunuh diri di kalangan laki-laki muda Inuit. Peneliti dari University of Greenland (Ilisimatusarfik), seperti dikutip BBC, mengaitkan kondisi ini dengan krisis identitas dan keterputusan budaya.

Dalam konteks inilah pernyataan Trump memicu penolakan keras. Dilansir dari Reuters, Perdana Menteri Greenland Múte B. Egede menegaskan bahwa masa depan Greenland harus ditentukan oleh rakyatnya sendiri, bukan oleh tekanan eksternal.
Artikel ini bukan tentang siapa yang paling berkuasa di Arktik, melainkan tentang bagaimana keputusan global memperlakukan manusia yang tidak pernah duduk di meja pengambil keputusan.
Greenland kini berada di persimpangan sejarah. Dunia melihatnya sebagai wilayah strategis bagi energi dan keamanan global. Sementara masyarakat Inuit melihatnya sebagai rumah yang berubah terlalu cepat—dan mempertanyakan apakah mereka masih dianggap sebagai subjek, atau sekadar catatan kaki dalam peta kepentingan dunia.
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






