Kamis, 26 Februari 2026 18:00

KORANMANDALA.COM –Di atas trotoar Jalan A. Yani No. 138, Kelurahan Malabar, Kecamatan Lengkong, Kota , sebuah gerobak kecil berwarna biru setia berdiri sejak pagi.

Tulisan sederhana “Asep Jam” menempel di sisinya. Di balik gerobak itulah Asep (50) menghabiskan hari-harinya sebagai tukang servis jam, profesi yang kian tergerus zaman.

Sejak 1996, Asep menekuni jasa servis jam. Keahlian itu diwarisinya dari orang tua dan hingga kini menjadi satu-satunya sumber penghidupan bagi keluarganya. Tanpa kios permanen, ia mengandalkan gerobak sederhana yang setiap hari diparkir di pinggir jalan, lalu dititipkan ke toko sekitar saat sore menjelang.

Jumlah Tunawisma Naik, Pemkot Bandung Intensifkan Penertiban Jelang Long Weekend

“Dari awal usaha memang di sini terus. Alat-alat juga dititipkan ke toko,” ujar Asep saat ditemui di trotoar Jalan A. Yani.

Setiap hari, Asep membuka lapaknya sejak pukul 06.00 WIB hingga sekitar pukul 16.00 WIB. Jika lapar atau lelah, ia pulang sebentar ke rumah untuk makan dan beristirahat, lalu kembali lagi ke tempat mangkalnya.

Namun, di balik aktivitas servis jam itu, tersimpan cerita lain yang lebih sunyi. Anak bungsu Asep kerap menemani sang ayah bekerja. Duduk di atas gerobak, bocah itu membuka buku tulisnya. Huruf-huruf yang ia goreskan belum sepenuhnya rapi, beberapa keluar garis. Pensilnya sesekali berhenti, lalu kembali bergerak, mengikuti arahan ayahnya di sela bunyi detik jam yang terus berdetak.

Jumlah pelanggan datang tak menentu. Jika dibandingkan dengan masa lalu, kondisi sekarang jauh berbeda. Dulu, Asep bisa melayani hingga lima pelanggan dalam sehari. Kini, jumlah itu jarang tercapai dan berdampak langsung pada penghasilannya.

Jenis layanan pun berubah. Penggantian baterai jam menjadi permintaan yang paling sering datang. Sementara jam mekanik yang membutuhkan perbaikan rumit semakin jarang. Banyak orang memilih membeli jam baru ketimbang memperbaiki yang lama.

Penurunan pelanggan mulai Asep rasakan sejak akhir 1990-an, seiring masuknya jam digital ke pasaran. Situasi tersebut semakin berat ketika pandemi Covid-19 melanda.

“Waktu Covid itu berat sekali. Sepi. Tapi alhamdulillah sekarang sudah agak mendingan,” tuturnya lirih.

Meski sempat terlintas keinginan untuk berhenti, Asep mengaku tak memiliki banyak pilihan. Keahlian servis jam adalah satu-satunya keterampilan yang ia kuasai.

“Pengen berhenti, tapi sudah mentok. Enggak ada jalan lagi,” tegasnya.

Bagi Asep, jam bukan sekadar penunjuk waktu. Banyak jam yang dibawa pelanggan menyimpan nilai emosional—warisan orang tua atau benda yang penuh kenangan.

“Kadang orang datang bukan karena jamnya mahal, tapi karena kenangannya,” katanya.

Di tengah ketidakpastian penghasilan, Asep menyimpan harapan sederhana: tetap bisa menyekolahkan anak-anaknya dan menjaga kesehatan agar mampu terus bekerja.

Menjelang sore, ketika toko-toko mulai menutup pintu, Asep membereskan gerobaknya. Alat-alat servis kembali dititipkan, trotoar perlahan lengang. Esok pagi, ia akan kembali ke tempat yang sama—membuka gerobak kecilnya, menunggu jam-jam yang berhenti agar bisa kembali berdetak.

(Luqman Dwirizal Arifin/MG)

Koranmandala.com

Exit mobile version