ADVERTISEMENT
KORANMANDALA.COM –Di sebuah kampung sunyi di Garut, hidup bukan soal memilih mimpi, melainkan bertahan dari hari ke hari. Di sanalah Bildan Muhammad Sya’ban (23) dibesarkan—dalam keluarga sederhana, dengan penghasilan yang sering kali tak cukup untuk sekadar esok hari. Sejak kecil, hidup memaksanya dewasa lebih cepat dari usianya.
Saat anak-anak lain pulang sekolah dengan seragam bersih dan tas rapi, Bildan kerap ikut orang tuanya menyusuri kebun. Memungut cengkih. Mencari kayu bakar. Bukan untuk bermain, tapi untuk dijual—demi menambah uang makan keluarga.
“Sejak kecil kondisi ekonomi keluarga saya sederhana. Kami sering mencari kayu bakar dan cengkih untuk dijual. Itu jadi biaya tambahan untuk kebutuhan sehari-hari,” ujar Bildan.
ADVERTISEMENT
Mengenal Lebih Dekat Adrian Luna, Calon Amunisi Baru Persib Bandung
Rutinitas itu melelahkan. Namun justru dari sanalah ia belajar satu hal penting: hidup tidak memberi pilihan selain bertahan.
Prestasi yang Menjadi Nafas Harapan
Pendidikan awal di SD dan SMP kampung halaman masih bisa dijangkau. Namun itu pun tak mudah. Beberapa kali, prestasi akademik menjadi satu-satunya alasan ia bisa tetap duduk di bangku sekolah.
“Saya beberapa kali dapat beasiswa siswa teladan. SPP saya ditanggung sekolah,” tuturnya, Sabtu (3/1).
Beasiswa bukan sekadar penghargaan, melainkan penyelamat. Tanpa itu, sekolah bisa berhenti kapan saja.
Hampir Menyerah di Persimpangan Hidup
Titik paling berat datang ketika Bildan melanjutkan pendidikan ke MAN Kota Cimahi, lalu diterima di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Di sinilah realitas menghantam keras. Biaya melonjak, kebutuhan bertambah, dan mimpi mulai terasa terlalu mahal.
“Ada masa saya hampir menyerah. Biaya terasa berat sekali. Melanjutkan sekolah seperti sesuatu yang terlalu jauh untuk saya gapai,” kenangnya.
Putus asa sempat menyergap. Namun berhenti bukan pilihan. Di tengah kebingungan, Bildan memilih satu hal: bertahan.
Ia mencari peluang ke mana-mana—Google, media sosial, poster beasiswa, hingga forum pendidikan. Ia menggantungkan harapan pada satu nama: KIP Kuliah.
“Saya tidak benar-benar berhenti bermimpi. Saya bertahan dan berharap ada solusi,” katanya.
Kabar yang Mengubah Arah Hidup
Persaingan nasional membuatnya ragu. Ribuan mahasiswa dari seluruh Indonesia berebut peluang yang sama. Namun ketakutan tak menghentikannya.
“Saya sempat ragu karena saingannya satu Indonesia. Tapi saya mencoba cari tahu bagaimana caranya bisa lolos KIP Kuliah,” ucapnya.
Hingga kabar itu datang. Namanya tercantum sebagai penerima KIP Kuliah.
Momen itu mengubah segalanya.
“Saya enggak nyangka. Tapi karena jerih payah dan doa Ibu dan Ayah, alhamdulillah saya diterima. UKT UPI itu besar sekali. Tanpa KIP, saya mungkin berhenti. Tapi KIP membayar semuanya dari semester satu sampai delapan,” ujarnya.
Beasiswa itu bukan hanya bantuan. Ia adalah penyelamat masa depan.
Hidup Irit di Tengah Dunia yang Hedon
Menjadi mahasiswa dari keluarga kurang mampu bukan hanya soal belajar di kelas. Tantangan terbesarnya justru ada di luar kampus—mengatur hidup.
Saat sebagian teman menikmati gaya hidup bebas, Bildan memilih jalan sepi: hidup hemat, mandiri, dan penuh perhitungan.
“Perjuangan terberat selama kuliah adalah harus lebih irit dan mandiri. Orang lain bisa poya-poya, saya harus simpan uang sebaik mungkin. Jangan boros,” katanya.
Ia tahu, kesalahan kecil bisa berakibat besar.
Perjuangan yang Bukan Hanya untuk Diri Sendiri
Ada satu alasan yang membuat Bildan terus melangkah meski lelah: orang tuanya.
“Ada orang tua saya yang berharap anaknya bisa lebih sukses dari mereka.”
Bagi Bildan, pendidikan bukan ambisi pribadi. Ia adalah bentuk tanggung jawab—sebagai anak, sebagai harapan keluarga.
Keputusan melanjutkan studi ke jenjang S2 di UPI lahir dari tekad itu. Orang tuanya mungkin tak sepenuhnya memahami dunia akademik. Pendidikan mereka berhenti di bangku SMA. Namun justru dari sanalah tekad Bildan mengeras.
“Saya ingin bisa lebih baik dari jenjang pendidikan orang tua,” katanya lirih.
Baginya, menaikkan derajat orang tua bukan slogan. Itu tentang hidup yang lebih layak, rasa bangga yang tak terucap, dan ketenangan di masa tua mereka.
Pesan dari Kampung Garut
Kini, harapan Bildan sederhana namun bermakna: stabilitas ekonomi keluarga, agar pendidikan tak lagi menjadi momok menakutkan.
Ia pun menitipkan pesan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu:
“Pendidikan itu sangat vital. Tanpa pendidikan, kita tidak tahu mana yang baik dan buruk. Mimpi kalian layak diperjuangkan. Keterbatasan bukan alasan untuk berhenti, tapi alasan untuk bertahan lebih kuat.”
Ia menutup dengan pesan sang ibu yang selalu ia genggam erat:
“Tuntaskan apa yang sudah kamu mulai, Nak.”
Dari kampung sederhana di Garut hingga bangku S2 UPI, perjalanan Bildan Muhammad Sya’ban adalah bukti bahwa kemiskinan bukan takdir akhir. Dengan tekad, doa, dan keberanian untuk bertahan, pendidikan mampu mengubah arah hidup—dan mengangkat derajat sebuah keluarga.
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






