ADVERTISEMENT
KORANMANDALA.COM –Di tengah hiruk pikuk Kota Bandung yang tak pernah benar-benar berhenti, langkah Abah Baron selalu berjalan dengan ritme yang sama pelan, tenang, seolah ia tidak sedang dikejar waktu. Pagi, siang, hingga menjelang sore, Abah menyusuri jalanan kota dengan kesabaran yang nyaris langka di zaman serba tergesa ini.
Di kepalanya bertengger kopiah hitam yang warnanya telah memudar, saksi bisu dari hari-hari panjang yang dijalani tanpa banyak kepastian. Di punggungnya, ransel tua tergendong erat. Sementara di tangan kanan dan kiri, dua termos kopi menggantung, menemani sebuah mushaf Al-Qur’an yang tak pernah lepas dari genggamannya.
Itulah seluruh dunia Abah Baron.
ADVERTISEMENT
Di dalam termos-termos itu, tersimpan kopi hitam pekat, kopi manis, dan kopi susu. Abah tak pernah menyebutnya sebagai strategi dagang. Baginya, itu sekadar cara memberi pilihan.
“Biar orang milih sesuai rasa,” katanya suatu hari. Seperti hidup, tidak semua orang kuat pahit, tidak semua juga cocok manis,” tambahnya lirih.
Abah Baron adalah penjual kopi keliling. Ia tidak menetap, tidak punya lapak tetap. Hari ini bisa berada di satu sudut kota, esok mungkin sudah menyusuri jalan yang lain. Ia berjalan mengikuti langkah, bukan peta.
Di sela-sela perjalanannya, Abah kerap berhenti. Bukan hanya untuk menawarkan segelas kopi hangat, tetapi juga untuk membuka Al-Qur’an dan membacanya.
Mengaji, bagi Abah, bukan soal berapa lama atau seberapa banyak ayat yang dilantunkan. Yang terpenting adalah mau menyempatkan diri sebab kematian, katanya, tak pernah memberi aba-aba.
“Waktu mati itu tidak tua, tidak muda. Kapan saja bisa,” ujarnya dengan nada pelan.
“Kita mah cuma nunggu. Yang tahu waktunya, cuma Allah.”
Itulah alasan Al-Qur’an selalu ia bawa ke mana pun melangkah. Di dunia yang menurutnya semakin sulit dipercaya, mushaf itu menjadi satu-satunya pegangan hidup yang tak pernah ia ragukan.
“Manusia mah bisa bohong,” ucapnya tenang namun tegas.
“Hari ini ngomong A, besok bisa B. Tapi Qur’an mah dari dulu ya itu-itu saja. Dan tidak bohong.”
Abah tak pernah menganggap dirinya orang alim. Ia hanya penjual kopi keliling yang terus belajar memahami hidup. Meski hidupnya pas-pasan, Abah percaya, selama manusia berpegang pada Ilahi dan tidak melepaskan Al-Qur’an, keberkahan akan selalu menemukan jalannya.
Dalam hidupnya, Abah sudah melihat banyak hal. Ia menyaksikan orang-orang naik jabatan, dielu-elukan, lalu jatuh. Melihat kekuasaan dipertahankan mati-matian, dipoles sedemikian rupa, hingga akhirnya runtuh oleh hukum dan waktu. Dari semua itu, Abah menarik satu kesimpulan sederhana: manusia bisa salah, bisa berpura-pura, bahkan bisa lupa diri. Tetapi kebenaran, katanya, tak pernah bisa dikubur selamanya.
Menurut Abah, banyak manusia merasa hidupnya akan panjang—seolah memiliki seribu tahun. Terlena oleh gemerlap dunia, pujian, dan kekuasaan. Padahal semua itu, baginya, bisa selesai dalam sekejap.
“Dunia ini mah tempat singgah,” ucap Abah pelan.
“Bukan tujuan.”
Di tengah bising kota dan kerasnya hidup, Abah Baron terus melangkah—dengan kopi di tangannya dan Al-Qur’an di dadanya. Sederhana, tapi penuh makna.
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






