KORANMANDALA.COM – Di media sosial kini viral video warga yang mengaku jadi korban getok harga makanan di seputaran Jalan Braga, kota Bandung.
Video itu diunggah Mayang Puspa Dewi lewat akun @mayangpuspita95 di media sosial instagram beberapa hari lalu dan sudah ditonton ribuan kali oleh warganet dengan ragam komentarnya.
Lewat video berdurasi singkatnya, Mayang mengungkapan rasa kecewa usai membeli cemilan berupa basreng di kawasan wisata Jalan Braga.
Ia merasa bak terkena samberan petir usai tahu harga satu porsi basreng yang dikemas dalam sebuah kotak dus.
Untuk 3 butir basreng dan sambal saosnya, katanya, ia harus membeli dengan uang sebesar Rp50 ribu.
Menurut mayang harga basreng Braga Rp50 ribu lebih mahal dibanding dengan harga di tempat lain, termasuk harga di sebuah kawasan elit di Kota Bandung.
“Salah na teh teu tatanya heula sabaraha sa porsi na, jol meuli we sa porsi. Ari pas bayar, anj*r lima puluh rebu (salahnya enggak tanya dulu berapa satu porsinya. Langsung aja se porsi. Begitu bayar, anj*r lima puluh ribu),” kata Mayang seraya menunjukkan basreng yang sudah dibelinya.
“Asa kasenter gelap, isi na teh tilu. Kuat ngaleuwihan ti sumarecon, di sumarecon oge paling 35 rebu (kayak kesamber petir. Sampai lebih dari sumarecon, di sumarecon juga paling 35 ribu),” imbuhnya.
Video singkat soal getok harga yang dibagikan Mayang di media sosial itu pun sontak mengundang reaksi warganet.
“Mun 50 rb sagede Batu buled anu dina trotoar mah,, wantun teh,” tulis akun luthfie_skhi.z.
“Bantu Up ajah…spy jd info bwt yang lain…bisi reuwas…sugan rada tertib hargana” kata luthfie_ mf74h6.
“Kemren ge beli cumi bakar secuil harga 50k moal deui jajan di braga” timpal reza_ezazz.
Menanggapi video viral terkait harga makanan yang dianggap terlalu mahal, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Jawa Barat, Iendra Sofyan, memberi pemahaman, makanan atau kuliner merupakan salah satu daya tarik pariwisata. Namun demikian, untuk hal tersebut ada dua sisi yang perlu mendapatkan perhatian.
“Pertama, bagi wisatawan atau pembeli, tentunya harus lebih berhati-hati yaitu prinsip teliti sebelum membeli. Hal-hal yang perlu diteliti adalah makanannya itu sendiri misalnya terkait jenis, kandungan, rasa, kebersihan dan waktu kadaluarsanya. Kemudian adalah harga. Tidak ada salahnya pembeli untuk menanyakan secara pasti. Perlu dipahami juga kadang harga menentukan tempat namun proporsional atau tidak berlebihan, terang Iendra saat ditemui di Kantor Disparbud Jabar, Jl. R. E. Martadinata, Bandung, pada Kamis (11/12/2025).
“Kedua, bagi penjual. Mari kita jaga kebahagian wisatawan atau pembeli dengan menikmati makanan khas, dalam hal ini baso goreng (basreng),” imbuhnya.
Menurut Iendra, tentunya prinsip pelayanan yang baik akan lebih menguntungkan dan bernilai ibadah, dengan pelayanan yang baik akan mendatangkan pembeli yang lebih banyak lagi.
“Pelayanan yang dimaksud termasuk dalam hal kualitas makanan dan harga. Apalagi jika pedagang bisa memberikan penjelasan unik terkait makanan tersebut yang disebut dengan Story Telling. Mari kita jaga Pariwisata Jawa Barat dengan baik melalui pelayanan dan bijak dalam membeli,” pungkasnya.
