Kamis, 26 Februari 2026 18:00

KORANMANDALA.COMHujan deras belum juga mau berhenti malam itu. Air turun seperti ditumpahkan dari langit, deras, tanpa jeda. Di Gang Swadaya, Cihampelas gang sempit yang biasanya penuh suara obrolan warga hanya ada satu yang terdengar: gemuruh air sungai yang sejak sore makin liar.

Waktu sudah melewati pukul 23.30 WIB. Sebagian besar warga terlelap. Tapi dalam hitungan detik, keheningan itu pecah oleh sebuah dentuman keras. Suaranya menggema dari arah jembatan kecil yang menjadi nadi akses warga.

Lalu, teng… teng… teng! Kentongan besi dipukul bertalu-talu.

Perempuan Ojol Bernama Kartini: Menyalakan Harapan dari Atas Motor

Di balik suara itu berdiri Pemiati (60), Ketua RT 08 RW 02 Kelurahan Cipaganti. Tangannya bergetar, bukan karena usia, bukan pula karena dingin malam yang menembus jaket tipisnya. Getaran itu datang dari rasa panik ketika ia menyadari: jembatan di depan permukiman mereka baru saja ambruk, dihantam arus sungai yang meluap.

“Waktu dengar dentuman keras, saya langsung pukul kentongan supaya warga bangun dan keluar rumah,” ucapnya. “Ternyata jembatannya sudah ambruk terbawa arus.”

Bagi warga Gang Swadaya, bunyi kentongan bukan sekadar tanda bahaya. Sudah beberapa hari sebelumnya, mereka sepakat:

jika kentongan berbunyi, semua harus segera keluar rumah.

Kewaspadaan itu muncul setelah benteng di sisi jembatan mulai jebol, dipicu kondisi tanah yang terus bergerak. Tanah yang biasanya dipijak dengan rasa aman, kini berubah rapuh, tak bisa dipercaya.

“Kami sudah siaga sejak beberapa hari lalu,” kata Pemiati. “Warga sepakat kalau kentongan berbunyi, berarti harus segera keluar rumah.”

Maka ketika suara kentongan menggema, pintu-pintu rumah terbuka satu per satu. Warga keluar dengan pakaian seadanya ada yang masih memakai sarung, ada yang memeluk anak kecil yang terjaga karena suara keras. Lampu-lampu rumah redup, sebagian padam karena listrik terputus. Yang tersisa hanya suara hujan menghantam atap dan langkah terburu-buru mencari kepastian bahwa semua keluarga aman.

Ketika warga akhirnya tiba di lokasi jembatan, mereka disambut bau tanah basah dan pemandangan yang membuat dada sesak. Jembatan itu yang sehari-hari mereka lewati untuk bekerja, berbelanja, atau mengantar anak sekolah sudah tak berbentuk. Benteng penahan di sisi sungai hilang diseret arus. Tiga rumah di dekat lokasi rusak paling parah.

Meski demikian, di tengah kepanikan, ada satu hal yang mereka syukuri: tidak ada korban jiwa.

“Hujan dua kali dalam sehari saja sudah bikin tanah makin gerak,” tutur Pemiati sambil menatap tebing yang kini tampak rapuh. “Itu yang akhirnya bikin longsoran tambah besar.”

Ini bukan pertama kalinya jembatan itu rusak. Warga sudah beberapa kali memperbaikinya secara swadaya. Dengan tenaga sendiri, dengan uang seadanya. Tapi kali ini kerusakannya bukan lagi setingkat retakan—seluruh bagian jembatan hanyut tak bersisa.

“Sebelumnya pernah rusak,” ujarnya. “Tapi kali ini paling berat.”

Sejak Jumat lalu, warga bersama petugas sebenarnya sudah berusaha memperbaiki benteng penahan. Material penguat sudah mulai dipasang. Namun Minggu malam, ketika hujan kembali turun tanpa ampun, upaya itu kembali luluh lantak.

“Sudah mulai diperbaiki, tapi pas hujan turun lagi, bentengnya hanyut lagi,” kata Pemiati, suaranya merendah, seperti menahan lelah yang menumpuk beberapa hari terakhir.

Kini, Gang Swadaya hidup dalam kecemasan yang sama sekali tidak mereka inginkan. Awan gelap menjadi tanda bahaya, bukan lagi kabar tentang hujan biasa. Akses utama menuju permukiman praktis terputus. Jika terjadi keadaan darurat, mereka tak punya jalur cepat.

Di tengah semua itu, kentongan besi di depan rumah Pemiati tetap tergantung—sebuah simbol kesiagaan warga. Benda sederhana yang kini menjadi penyambung nyawa di pemukiman kecil itu.

Sementara itu, hujan masih turun sesekali. Dan setiap tetes yang jatuh lebih deras membuat warga Gang Swadaya menahan napas, khawatir jika dentuman lain kembali terdengar dari arah sungai.

Karena di tempat itu, pada malam berkabut dan beraroma tanah basah, warga tahu satu hal: keselamatan mereka bisa bergantung pada seberapa cepat kentongan itu dipukul.

Exit mobile version