ADVERTISEMENT
KORANMANDALA.COM –Di bawah rindangnya pepohonan di sepanjang Jalan BKR, Kota Bandung, sosok perempuan berseragam biru itu terus mengayunkan sapunya. Gerakannya mantap, ritmis, seolah menyatu dengan pagi yang baru saja bangun dari tidur.
Namanya Tati Hayati (43), petugas kebersihan yang setiap hari menjadi bagian dari denyut kehidupan kota.
Sebelum matahari sempurna terbit, Tati sudah lebih dulu hadir di tepi jalan. Lima tahun terakhir, rutinitas itu setia ia jalani.
ADVERTISEMENT
Dengan rompi dan topi sederhana, ia menyapu sisa aktivitas warga yang berceceran di trotoar hingga bahu jalan tugas yang ia emban sebagai pekerja kontrak di bawah Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Bandung.
Bagi Tati, menjaga kebersihan bukan sekadar pekerjaan. Ada ibadah yang ia titipkan dalam setiap ayunan sapu.
“Insya Allah pekerjaan ini membawa keberkahan bagi saya dan keluarga,” ucapnya, tersenyum.
Ibu Empat Anak yang Tak Pernah Menyerah
Di balik senyumnya yang hangat, Tati adalah ibu dari empat anak. Sang sulung telah menikah, sementara tiga lainnya masih menempuh pendidikan mulai dari SMA hingga SD. Suaminya bekerja, tetapi kebutuhan keluarga tetap menuntut kerja keras dari keduanya.
“Alhamdulillah, pekerjaan ini membantu sekali. Buat sekolah anak-anak, buat kebutuhan di rumah,” katanya.
Ketekunan Tati bukan sekadar soal bertahan hidup, tetapi tentang memastikan anak-anaknya tetap bisa bermimpi lebih tinggi dari dirinya.
Bekerja di jalanan tentu membawa risiko. Lalu lintas padat menuntut kewaspadaan ekstra agar tidak terserempet kendaraan. Cuaca pun sulit ditebak panas terik bisa berlangsung berjam-jam, sementara hujan datang tiba-tiba membawa ancaman pohon tumbang.
“Harus hati-hati. Kadang kalau hujan, lari-lari cari tempat teduh,” ujarnya sambil tertawa kecil.
Namun apa pun tantangannya, Tati tetap bertahan. Setiap hari, ia kembali ke titik semula dan memulai lagi.
Mimpi Sederhana yang Ia Jaga Baik-Baik
Di balik semua ketulusan itu, Tati menyimpan satu mimpi yang selalu ia pelihara: berangkat umrah.
“Cita-cita saya kepingin umrah. Semoga ada rezekinya,” katanya lirih.
Baginya, Tanah Suci bukan hanya tujuan ibadah. Itu adalah harapan yang membuatnya kuat berdiri meski tubuh lelah menghitung jam. Ia tidak tahu kapan panggilan itu datang, tetapi ia menjaganya dalam doa, dalam kerja keras, dan dalam kesabaran menyapu jalan.
Tati Hayati adalah satu dari banyak wajah yang sering terlewat dalam keramaian kota. Pekerjaan mereka mungkin tak banyak disebut, namun hasilnya dirasakan oleh semua orang. Jalanan yang bersih, trotoar yang rapi, dan ruang publik yang nyaman semuanya berakar dari tangan-tangan seperti Tati.
Di balik seragam birunya, ia menyimpan keteguhan, doa, dan cita-cita yang terus menyala. Kota yang bersih mungkin hasil kerja banyak orang, tetapi hati yang bersih adalah hasil perjuangannya sendiri.
Dan mungkin, suatu hari nanti, sapu yang ia genggam setiap pagi bukan hanya menjaga kebersihan kota, tetapi juga mengantarkan langkahnya menuju mimpi terindah: menjejakkan kaki di Tanah Suci. (Sarah)
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






