ADVERTISEMENT
KORANMANDALA.COM –Anggota DPRD Kota Bandung dari Fraksi PKB, AA Abdul Rojak, menegaskan bahwa pendidikan menjadi prioritas utama dalam kegiatan reses masa persidangan November 2025.
Hal itu ia sampaikan saat menggelar reses di Arcamani, Selasa (25/11/2025), yang menjadi titik kelima dari enam lokasi reses yang tersebar di seluruh kecamatan di Dapil 3.
Selama masa reses ini, Rozak telah menyapa warga di berbagai wilayah, mulai dari Cibiru, Ujungberung, Antapani, Mandalajati, hingga Arcamani.
ADVERTISEMENT
Syahlevi Dorong Optimalisasi Program PIP: Jangan Biarkan Bantuan Anak Hilang Karena Ketidaktahuan
Dari rangkaian dialog tersebut, ia menemukan bahwa persoalan pendidikan masih menjadi keluhan terbesar warga. Banyak keluarga yang terkendala biaya sekolah dan membutuhkan advokasi agar anak-anak mereka tetap dapat melanjutkan pendidikan.
Melihat kondisi itu, Rojak memanfaatkan momentum reses untuk sekaligus mensosialisasikan Program Indonesia Pintar (PIP).
Sebagai Ketua Fraksi PKB, ia menjelaskan bahwa partainya memiliki jalur advokasi melalui anggota Komisi X DPR RI dari PKB, Habib Sharif, yang memiliki program PIP untuk membantu pembiayaan sekolah mulai dari tingkat SD hingga SMA, termasuk KIP Kuliah.
Sosialisasi ini disambut antusias warga karena program tersebut dianggap mampu meringankan beban biaya pendidikan.
Rojak mengungkapkan bahwa sepanjang tahun 2025, ia telah mengadvokasi sedikitnya 8.000 penerima PIP di wilayah Dapil 3. Sebagian di antaranya sudah cair, sementara sisanya masih dalam proses. Menurutnya, angka tersebut menunjukkan betapa besar kebutuhan masyarakat terhadap bantuan pendidikan.
Momentum reses kali ini terasa semakin spesial karena bertepatan dengan Hari Guru Nasional. Rojak mengaku memiliki kedekatan emosional dengan dunia pendidikan.
Ia berasal dari keluarga pendidik ayahnya merupakan guru, sementara dirinya telah mengajar sebagai dosen sejak 2012 dan menempuh pendidikan hingga tingkat S3.
“Pendidikan harus menjadi prioritas utama. Besarnya suatu negara itu ditentukan oleh kualitas pendidikannya,” ujarnya.
Selain persoalan pendidikan, warga juga menyampaikan berbagai aspirasi lain seperti jeratan rentenir, kebutuhan fasilitas sosial, sarana air bersih, pelatihan pemberdayaan masyarakat, hingga infrastruktur jalan. Seluruh aspirasi tersebut dicatat dan diakomodasi untuk ditindaklanjuti, meski Rozak menegaskan bahwa fokus utama reses November ini tetap pada isu pendidikan.
Ia menutup kegiatan reses dengan menegaskan bahwa komitmennya terhadap pendidikan sudah menjadi bagian dari visi politiknya sejak awal mencalonkan diri, yang ia rangkum dalam jargon “nyantri, nyunda, nyakmola.” Program PIP yang ia bawa dari kebijakan pemerintah pusat, kata Rozak, merupakan bentuk kontribusi nyata untuk memperkuat sektor pendidikan di Kota Bandung, terutama bagi warga yang belum terjangkau program pemerintah kota.
“Mudah-mudahan segala persoalan terkait pendidikan bisa terbantu dan ini menjadi bagian dari kontribusi kita bagi kemajuan Kota Bandung,” tuturnya.
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






