ADVERTISEMENT
KORANMANDALA.COM – Anggota Komisi IV DPRD Kota Bandung Christian Julianto Budiman mengatakan setiap 28 Oktober, kita kembali diingatkan pada peristiwa Sumpah Pemuda 1928. Momen saat anak-anak muda dari berbagai penjuru nusantara menanggalkan identitas kesukuannya dan menyatakan satu tekad bersama: Satu Tanah Air, Satu Bangsa, dan Satu Bahasa.
“Yang patut kita ingat dan renungkan, Sumpah Pemuda lahir di rumah milik seorang Tionghoa, Sie Kok Liong atau sumber lain mencatat namanya sebagai Sie Kong Lian, yang terletak di Jalan Kramat Raya 106 Jakarta. Di rumah itu, pemuda dengan latar belakang suku, agama, dan budaya yang berbeda duduk sejajar, berdiskusi, dan menyepakati satu semangat kebangsaan,” ujarnya, saat dihubungi, Selasa (28/10/2025).
Menurut budayawan Azmi Abubakar, di rumah itu juga lagu syair Indonesia Raya pertama kali diperdengarkan.
ADVERTISEMENT
Kini, hampir seabad kemudian, tantangan pemuda bukan lagi penjajahan fisik, tetapi penjajahan pemikiran dan ketimpangan kesempatan.
Menurutnya, pemuda saat ini hidup di tengah derasnya arus informasi, globalisasi, dan disrupsi teknologi. Identitas dan semangat kebangsaan kerap tergerus oleh budaya instan, disinformasi, serta polarisasi yang merusak keutuhan sosial.
“Di Kota Bandung, kota yang dikenal sebagai kota kreatif dan pusat gagasan progresif, tantangan itu terasa semakin nyata,” imbuh politisi Partai Solidaritas Indonesia.
Bandung dinilai Chris memiliki potensi luar biasa dari generasi mudanya. Hal itu berkembang dengan munculnya komunitas kreatif, start-up, seni, hingga inovator sosial. Namun potensi ini sering belum terhubung secara sistematis dengan kebijakan dan ekosistem pembangunan kota.
“Saya percaya pemuda bukan sekadar objek pembangunan, tapi subjek utama perubahan. Kita harus memastikan kebijakan daerah memberikan ruang dan dukungan nyata bagi tumbuhnya kreativitas dan kemandirian pemuda. Pemuda harus terus menjaga persatuan, keragaman, tidak boleh apatis dan harus terlibat aktif dalam berbagai aspek, baik di tatar kebijakan maupun implementasi lapangan,” tuturnya.
Dia menekankan, Sumpah Pemuda bukan sekadar simbol historis, melainkan pesan moral yang relevan di setiap zaman. Jika 1928 para pemuda bersatu untuk menentang penjajahan, maka pada 2025 generasi muda melawan ketidakpedulian, intoleransi, dan apatisme.
DPRD Kota Bandung berkomitmen untuk terus memperjuangkan kebijakan yang berpihak pada pemuda, serta memastikan mereka memiliki ruang tumbuh, kesempatan, dan masa depan yang layak.
“Mari kita jaga janji 1928 dengan tindakan nyata hari ini. Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa dan satu semangat untuk memajukan Bandung dan Indonesia,” ucapnya.
Upacara Hari Sumpah Pemuda ke-96 di Purwakarta: Maju Bersama Indonesia Raya
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






