ADVERTISEMENT
KORANMANDALA.COM –Dunia pendidikan kembali tercoreng. Kabar duka datang dari Bali, ketika Timothy Anugerah Saputra, mahasiswa Universitas Udayana, ditemukan tewas akibat dugaan bunuh diri setelah menjadi korban bullying oleh seniornya.
Tragedi ini bukan sekadar kabar memilukan, tapi juga tamparan keras bagi dunia pendidikan Indonesia yang seolah belum benar-benar sembuh dari budaya kekerasan dan perundungan.
Kasus ini memantik banyak suara dari berbagai daerah, termasuk dari anggota DPRD Kota Bandung Fraksi PKB. Legislator perempuan ini menyayangkan masih maraknya perilaku perundungan, terlebih di lingkungan pendidikan yang seharusnya menjadi tempat menanamkan nilai-nilai moral dan kemanusiaan.
ADVERTISEMENT
Fraksi PKB Kota Bandung Pasang Badan untuk Pesantren: Indri Rindani Nilai Kritik Atalia Tidak Tepat
“Saya ini perwakilan perempuan dari Fraksi PKB yang ikut membuat Perda Perlindungan dan Pemberdayaan Perempuan di Kota Bandung. Jadi wajar kalau saya geram setiap kali dengar ada kasus pembulian, perundungan, apalagi body shaming. Sekarang perempuan di Kota Bandung sudah punya payung hukum yang bisa melindungi mereka,” ujarnya dengan nada tegas.
Namun di balik regulasi yang sudah ada, sang legislator mengaku persoalan moral dan empati masih menjadi pekerjaan rumah besar. Ia bahkan tak menampik pernah menjadi korban body shaming, bahkan dari kalangan yang berpendidikan tinggi.
“Dulu saya nggak paham ya soal ini, tapi alhamdulillah sekarang saya sadar. Ironisnya, sampai hari ini pun saya masih sering dibully atau di-body shaming. Dan yang lebih menyedihkan, pelakunya justru orang-orang yang punya jabatan, yang katanya berpendidikan,” ungkapnya dengan nada kecewa.
Ia menegaskan, akar dari perilaku perundungan bukan hanya soal pendidikan akademik, tetapi soal pendidikan keluarga bagaimana seseorang diajarkan untuk berempati, menghargai, dan mengolah rasa sejak kecil.
“Bagaimana punya akhlak yang baik, bagaimana menghormati orang lain, semua itu berawal dari rumah. Dari cara orang tua mendidik anaknya. Kalau keluarga gagal menanamkan empati, ya hasilnya bisa seperti ini,” tegasnya.
Kasus Timothy Anugerah seolah membuka mata publik bahwa pendidikan karakter di Indonesia masih rapuh. Gelar akademik dan jabatan tinggi ternyata belum tentu berbanding lurus dengan kematangan moral.
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






