Politik

Membangun Industri Tanpa Mengorbankan Kesejahteraan Buruh

Koran Mandala -Di tengah dorongan agresif pemerintah untuk mempercepat pertumbuhan sektor industri, muncul dilema klasik yang tak kunjung terselesaikan: bagaimana memastikan bahwa kesejahteraan buruh tidak menjadi korban dari ekspansi ekonomi?

Industri memang motor penting pertumbuhan ekonomi. Ia menyerap tenaga kerja, mendorong ekspor, dan mempercepat modernisasi ekonomi. Namun, dalam praktiknya, pertumbuhan ini sering disokong oleh fleksibilitas tenaga kerja yang kebablasan: kontrak jangka pendek, outsourcing tanpa perlindungan, hingga tekanan terhadap upah minimum.

Fenomena ini bukan sekadar isu ketenagakerjaan. Ia mencerminkan kegagalan kebijakan pembangunan yang terlalu fokus pada indikator makro, namun mengabaikan kualitas hidup para pekerja sebagai pelaku utama produksi.

ADVERTISEMENT

May Day 2025: 35 Ribu Buruh SPSI Jabar Bergerak ke Monas, Roy Jinto Desak Hapus Outsourcing dan Stop PHK

Jika dibiarkan, model ini berpotensi menciptakan pertumbuhan yang timpang. Seperti diingatkan ekonom Joseph Stiglitz, ketimpangan yang dibiarkan justru bisa merusak pertumbuhan jangka panjang. Daya beli buruh rendah berarti konsumsi stagnan. Ketidakpastian kerja menciptakan keresahan sosial. Semua ini akan menjadi batu sandungan bagi industrialisasi itu sendiri.

Belajar dari negara-negara seperti Jerman dan Korea Selatan, kunci sukses industrialisasi tidak terletak semata pada produktivitas atau efisiensi, tetapi pada keberpihakan terhadap kesejahteraan buruh. Dialog sosial, serikat pekerja yang kuat, serta jaminan sosial yang inklusif terbukti menciptakan stabilitas dan daya saing jangka panjang.

Indonesia membutuhkan pendekatan serupa. Pemerintah harus tampil sebagai penyeimbang kepentingan antara dunia usaha dan buruh. Regulasi ketenagakerjaan perlu diarahkan untuk menjamin perlindungan hak pekerja tanpa mematikan iklim investasi. Buruh bukan beban, melainkan aset strategis pembangunan.

Pembangunan industri yang sehat bukan hanya soal membangun pabrik dan meningkatkan ekspor. Ia harus berjalan seiring dengan peningkatan martabat hidup buruh. Jika industri adalah tulang punggung ekonomi, maka buruh adalah darah yang mengalir di dalamnya. Keduanya tak bisa dipisahkan.

Menyajikan berita dan konten-konten yang menarik tapi berkualitas dengan bahasa yang lugas. Menuju Indonesia lebih baik.

Published by
Tags: Headline

Recent Posts

Delapan Kali Beraksi, Tiga Pemuda Diduga Gasak 5 Kuintal Bawang Merah di Garut

KORAN MANDALA –Pencurian bawang merah dari sebuah gudang penyimpanan milik warga di Kecamatan Wanaraja, Kabupaten…

33 menit ago

Kalah dari Madura United, Persib Langsung Hadapi Misi Berat di Bogor

KORAN MANDALA –Persib Bandung tak punya banyak waktu untuk meratapi kekalahan dari Madura United. Tim…

2 jam ago

Begini Motif dan Pengakuan Sang Ayah dari Kasus Kekerasan Seksual Terhadap Anaknya

KORAN MANDALA –Fakta baru dalam kasus dugaan kekerasan seksual terhadap anak kandung yang melibatkan seorang…

3 jam ago

Penyewaan Mobil Listrik, Alternatif Kendaraan untuk Perjalanan Nyaman dan Hemat

KORAN MANDALA – Penyewaan mobil listrik menjadi salah satu alternatif bagi masyarakat yang ingin menggunakan kendaraan…

4 jam ago

Anggaran Perbaikan Darurat Pasar Andir Bayongbong Garut Mencapai Rp.1,5 Miliar

KORAN MANDALA –Pasar Andir Bayongbong Garut setelah terjadi kebakaran beberapa hari lalu,Pemerintah daerah kabupaten Garut…

5 jam ago

Persib Tumbang di Menit Akhir, Igor Tolic: Satu Kesalahan Jadi Petaka

KORAN MANDALA –Kekalahan Persib Bandung dari Madura United meninggalkan pekerjaan rumah besar bagi Maung Bandung.…

5 jam ago