ADVERTISEMENT
KORANMANDALA.COM – Jumat malam di Dago Pakar biasanya adalah tentang ketenangan. Namun, rintik hujan yang membasahi kawasan Ciburial pada 15 Mei 2026 berubah menjadi simfoni kekecewaan massal. Sekitar 200 orang yang telah mengenakan pakaian terbaik mereka, bersiap menikmati malam syahdu dalam gelaran “Candlelight Concerts in Bandung”, justru harus pulang dengan tangan hampa dan hati yang dongkol.
Promotor internasional di balik acara ini, Fever, platform hiburan global asal Madrid, Spanyol, seketika menjadi sorotan tajam. Raksasa yang telah sukses menggelar ribuan konser di lebih dari 100 kota dunia ini tampak gagap, amatir, dan gagal total dalam melakukan mitigasi risiko di ranah lokal Bandung.
Menunggu dalam Ketidakpastian
Pukul 20.00 WIB, suasana di Selasar Sunaryo Art Space sebenarnya sudah terbangun dengan estetika yang sempurna. Area registrasi telah didekorasi dengan ratusan lilin LED yang menyala temaram, memberikan janji akan sebuah malam “intimate” membawakan karya Ed Sheeran dan Coldplay lewat kuartet gesek. Banner bertajuk “Discover the Program for Today’s Concert” berdiri dengan angkuh di sudut ruangan.
ADVERTISEMENT
Namun, estetika itu hanyalah fasad yang rapuh. Hingga mendekati pukul 20.30 WIB, meja registrasi justru kosong melompong. Tak ada petugas yang berjaga, tak ada sapaan hangat bagi pemegang tiket berharga lebih dari Rp400.000-an yang sudah menembus kemacetan Jumat malam demi mencapai lokasi.
Puncaknya terjadi pada pukul 20.30 WIB. Sebuah email massal masuk ke gawai para penonton yang sedang berjuang mencari sinyal di ketinggian Dago. Isinya singkat dan dingin: Konser dibatalkan karena keadaan di luar kendali. Namun, bagi mereka yang tidak sempat mengecek email, kepastian pahit itu baru datang lewat pengumuman lisan petugas pada pukul 20.45 WIB—hanya 15 menit sebelum nada pertama seharusnya didentingkan.
Suara Lantang dari Kursi Penonton: “Ini Pembatalan Sepihak!”
Di tengah kerumunan yang mulai riuh oleh protes, muncul suara-suara kritis dari warga Bandung yang merasa haknya sebagai konsumen diinjak-injak. Salah satunya adalah Kenny, seorang penonton yang tampak sangat menyayangkan cara Fever mengelola krisis ini.
Dengan nada bicara yang tegas, Kenny menyoroti lemahnya profesionalisme panitia. “Sangat disayangkan, acara sebesar ini gagal total hanya karena alasan yang seharusnya sudah bisa diantisipasi. Ini pembatalan sepihak yang sangat mendadak,” ujar Kenny kepada Koran Mandala.
Bagi Kenny, masalah utamanya bukan sekadar hujan, melainkan etika bisnis. “Kita sudah sampai sini, sudah membayar mahal, dan tiba-tiba dibatalkan saat kita sudah di depan pintu. Sebagai promotor global, Fever seharusnya punya Plan B. Memindahkan ke area tertutup atau menyiapkan tenda pelindung instrumen sejak sore hari adalah standar minimal, bukan membiarkan penonton menunggu dalam ketidakpastian seperti ini,” tambahnya.
Dari pantauan Koran Mandala, bukan hanya Kenny, salah seorang penonton yang datang jauh-jauh dari Belitung juga menyuarakan nada serupa. Ia bahkan mengusulkan agar pertunjukan diundur 30 atau 60 menit dan memberikan kesempatan pada panitia untuk mempersiapkan tempat dan pemain karena cuaca sudah tidak hujan lagi saat itu, atau bahkan dipindahkan ke tempat indoor.
Kado Pahit dan Wisata “Museum Kursi Kosong”
Kekecewaan emosional yang lebih personal dialami oleh Mei, pengunjung asal Gegerkalong, Bandung. Dalam rangka perayaan ulang tahunnya, sang suami memberikan kejutan berupa tontotan istimewa yang akan menghadirkan lagu-lagu hits Ed Sheeran dan Coldplay dimainkan secara klasik di bawah cahaya lilin.
“Niatnya mau merayakan ulang tahun, mau cari suasana yang romantis dan intim, tapi malah dapat kado pahit. Sangat mengecewakan manajemennya. Kami sudah meluangkan waktu, tapi dihargai dengan pembatalan 15 menit sebelum mulai,” tutur Mei dengan raut wajah masygul.

Namun, di tengah kemarahan itu, muncul sebuah momen yang nyaris melampaui batas nalar. Panitia, yang dikonfirmasi oleh Vina berasal dari pihak Fever di Indonesia, justru mempersilakan penonton naik ke atas panggung amphitheater. Bukan untuk menonton musik, melainkan untuk melihat ribuan lilin LED yang tetap menyala mengelilingi empat buah kursi kosong milik para musisi yang sudah ditarik mundur.
Penonton yang kadung kecewa akhirnya menjadikan panggung itu sebagai “museum kekecewaan”. Sebagian dari mereka berfoto di depan kursi-kursi tak berpenghuni tersebut—sebuah ironi visual yang menangkap betapa Fever lebih peduli pada estetika lilin plastik daripada menghadirkan esensi dari sebuah konser musik: sang musisi itu sendiri.
Skandal “Voucher” yang Menyandera Konsumen
Jika pembatalan mendadak dianggap sebagai kegagalan teknis, maka kebijakan kompensasi Fever dianggap sebagai “skandal” ekonomi bagi sebagian orang. Dalam email resmi yang dikirimkan, Fever secara sepihak menyatakan bahwa mereka tidak akan melakukan refund atau pengembalian uang tunai secara otomatis.
Alih-alih uang kembali, penonton dipaksa menerima VIP Voucher dengan nilai yang sama, yang hanya berlaku selama 9 bulan di aplikasi Fever. Kebijakan ini tentu memancing amarah. Bagi warga Bandung yang mungkin hanya ingin menonton konser ini satu kali, voucher tersebut tak ubahnya seperti kertas tanpa guna.
Akhir Malam yang Dingin di Parkiran
Setelah dipuaskan dengan sesi foto di panggung kosong, sekitar 200-an penonton tersebut akhirnya “diusir” secara halus menuju area parkir. Di sana, potret sesungguhnya dari kegagalan Fever terlihat jelas. Ratusan orang berkerumun di bawah rintik hujan yang kian mendingin, berteduh di bawah pohon dan payung seadanya sambil menunggu kendaraan jemputan atau layanan ojek daring.

Pemandangan kontras antara panggung yang bercahaya terang dengan kerumunan penonton yang mulai kedinginan di parkiran basah menjadi penutup malam yang menyedihkan.
Catatan Redaksi: Menunggu Nyali Fever
Kasus Candlelight Concerts in Bandung malam ini menjadi catatan hitam bagi industri hiburan di Kota Kembang. Fever mungkin adalah raksasa di Madrid, namun di Dago, mereka tampak seperti pemain amatir yang tidak paham bahwa hujan di Bandung Utara bukanlah fenomena langka yang muncul tiba-tiba.
Manajemen yang dianggap “meuni butut” oleh warga lokal ini menuntut pertanggungjawaban lebih dari sekadar kode voucher digital. Publik menunggu nyali Fever untuk memberikan hak refund penuh sebagai bentuk penghormatan terakhir atas waktu, biaya, dan emosi ratusan penonton yang telah mereka sia-siakan.
Malam ini, di Ciburial, Dago, lilin-lilin memang terus berpijar hingga baterainya habis, namun melodi klasiknya telah mati sebelum sempat lahir.
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






