ADVERTISEMENT
KORANMANDALA.COM – Peristiwa tragis yang mengguncang warga Jalan Dwikora, Kecamatan Medan Sunggal, Kota Medan, pada Rabu (10/12/2025), turut mengundang perhatian kalangan akademisi psikologi. Seorang ibu rumah tangga ditemukan tewas di dalam kamar dan putri kandungnya yang masih berstatus pelajar SMP diduga menjadi pelaku.
Meski motif dan proses hukum masih berjalan, para ahli menilai kasus pembunuhan anak terhadap orang tua (parricide) biasanya lahir dari kombinasi faktor psikologis, lingkungan, dan dinamika keluarga yang kompleks.
Akademisi Psikologi, Billy Martasandy menjelaskan remaja berada pada fase perkembangan emosi yang belum stabil.
ADVERTISEMENT
“Remaja cenderung impulsif. Mereka bisa bertindak ekstrem ketika menghadapi tekanan berat, konflik keluarga intens, atau ketidakmampuan mengekspresikan emosi,” kata Billy.
Ia menambahkan kontrol diri anak usia SMP belum matang, sehingga emosi seperti marah, takut, atau dendam dapat meledak dalam bentuk perilaku berbahaya jika tidak mendapat pendampingan yang tepat.
Menurutnya, dinamika keluarga yang penuh konflik dapat menciptakan “lingkungan emosional beracun” bagi anak.
“Hubungan yang penuh pertengkaran, tekanan psikologis, atau komunikasi yang buruk sangat mungkin membuat anak merasa terpojok. Dalam kondisi ekstrem, mereka mencari jalan keluar yang salah,” katanya.
Ia menegaskan kasus kekerasan dalam rumah tangga, pola asuh otoriter, atau kontrol berlebihan dapat memperparah kerentanan psikologis remaja.
Selain itu, dirinya menilai tekanan dari luar rumah seperti tuntutan akademik dan pengaruh perilaku teman sebaya juga bisa menjadi pemicu.
“Lingkungan sosial remaja sangat kuat memengaruhi cara mereka menyelesaikan masalah. Jika anak berada dalam kelompok pergaulan yang normalisasi kekerasan, risiko tindakan agresif meningkat,” jelasnya.
Ia menambahkan paparan konten kekerasan berlebihan di media sosial juga berpotensi mengaburkan batas moral anak.
Billy mengatakan, beberapa tanda psikologis sering terlihat sebelum tindakan ekstrem muncul, tetapi kerap diabaikan seperti perubahan mood drastis, menarik diri dari keluarga, ungkapan keinginan untuk lari dari rumah, perilaku agresif sebelumnya, keluhan merasa tidak dihargai atau ditekan
“Banyak kasus parricide terjadi bukan karena kejadian tunggal, tetapi akumulasi tekanan yang tidak tertangani,” jelasnya.
Billy meminta agar kasus ini menjadi momentum bagi pemerintah daerah dan sekolah untuk memperkuat layanan konseling.
“Remaja membutuhkan ruang bercerita dan pendampingan profesional. Ini bukan soal salah atau benar semata, tapi bagaimana mencegah ledakan psikologis yang fatal,” ujarnya.
Billy menekankan anak yang diduga terlibat dalam kasus ekstrem seperti ini harus diperlakukan sesuai prinsip perlindungan anak serta diperiksa secara komprehensif oleh psikolog forensik.
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






