ADVERTISEMENT
KORANMANDALA.COM – Sebuah insiden yang seharusnya tidak pernah terjadi mengguncang SDN 01 Kalibaru, Cilincing, Jakarta Utara, Kamis pagi. Mobil pengantar program Makan Bergizi Gratis (MBG) program yang dirancang untuk menyehatkan anak justru melaju dan menabrak kerumunan siswa dan seorang guru di halaman sekolah.
Sebanyak 21 orang dilarikan ke rumah sakit. Beruntung tidak ada korban jiwa, namun fakta bahwa tragedi ini terjadi di lingkungan sekolah membuat banyak pihak mempertanyakan standar keamanan aktivitas logistik pemerintah di area pendidikan.
Akademisi Psikologi, Billy Martasandy, mengatakan persoalan utama dari insiden ini bukan hanya luka fisik, tetapi kerusakan rasa aman yang dapat bertahan lama.
ADVERTISEMENT
74 Siswa Keracunan Usai Konsumsi Menu MBG Dapur Cigandamekar
“Ketika insiden terjadi di tempat yang selama ini dianggap aman seperti sekolah, dampaknya bisa jauh lebih dalam. Anak bisa mengalami shock, ketakutan berlebihan, hingga trauma pada kendaraan atau suara keras,” kata Billy, Jumat (12/12/2025).
Billy menjelaskan siswa sekolah dasar berada pada fase perkembangan yang rentan. Mereka belum mampu mengolah rasa takut secara matang. Situasi menegangkan seperti kecelakaan dapat memicu kecemasan berkepanjangan, mimpi buruk, gangguan tidur, bahkan penolakan untuk kembali sekolah.
“Reaksi awal seperti menangis atau panik itu wajar. Yang perlu diwaspadai adalah bila reaksi itu bertahan lebih dari dua minggu, saat itu, pemeriksaan profesional menjadi sangat penting,” kata Billy,” ucapnya
Billy menekankan, pendampingan psikologis tidak boleh ditunda. Sekolah harus bergerak cepat menyediakan layanan konseling, sementara orang tua diminta lebih peka terhadap perubahan perilaku anak mereka.
“Jangan sekali-kali mengecilkan ketakutan anak. Dengarkan, peluk dan yakinkan bahwa mereka kini aman,” jelasnya.
Lebih jauh, ia menyebut insiden ini sebagai alarm keras bagi pemerintah daerah dan pihak sekolah. Menurutnya, setiap aktivitas logistik apalagi yang melibatkan kendaraan besar harus mematuhi protokol keamanan ketat, bukan sekadar rutinitas pelaksanaan program.
“Anak-anak adalah kelompok paling rentan. Tidak ada ruang untuk kelalaian. Jika sebuah program membawa risiko yang tidak dikelola dengan serius, maka seluruh tujuan mulianya bisa runtuh,” tegasnya.
Meski sebagian korban telah dipulangkan, Billy mengingatkan trauma tidak selalu muncul hari ini.
“Bisa muncul dalam hitungan minggu atau bahkan bulan. Karena itu pemantauan harus dilakukan berkelanjutan,” pungkasnya.
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






