ADVERTISEMENT
KORANMANDALA.COM – Bencana hidrometeorologi banjir bandang dan longsor melanda wilayah Sumatra, khususnya di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada akhir November 2025.
Peristiwa ini menelan korban jiwa dalam jumlah besar serta memaksa puluhan ribu warga mengungsi.
Data resmi dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat bahwa jumlah korban meninggal dunia mencapai 442 jiwa, sementara ratusan lainnya masih dinyatakan hilang.
ADVERTISEMENT
Banjir dan Longsor di Sumbar, BNPB: Distribusi Bantuan Harus Cepat Jangan Numpuk di Gudang Logistik
Jumlah pengungsi di tiga provinsi tersebut mencapai puluhan ribu jiwa. Di Sumatera Utara, lebih dari 18 ribu orang terpaksa meninggalkan rumah mereka. Di Aceh, tercatat sekitar 62.000 kepala keluarga mengungsi, sementara di Sumatera Barat jumlah pengungsi mencapai hampir 78 ribu jiwa.
Kondisi ini menimbulkan tantangan besar dalam distribusi logistik, terutama di wilayah yang akses daratnya terputus akibat longsor dan kerusakan jembatan.
Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto menegaskan dalam konferensi pers di Bandara Silangit, Tapanuli Utara, bahwa “Tim gabungan terus bekerja mempercepat operasi pencarian, pertolongan, logistik, dan pembukaan akses wilayah terdampak”, dikutip BNPB Senin, 1/12/2025.

Jumlah Korban Jiwa
Di Sumatera Utara, tercatat 217 jiwa meninggal dunia dan 209 orang masih hilang. Wilayah terdampak meliputi Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, Kota Sibolga, hingga Deli Serdang dan Nias.
Di Aceh, korban meninggal mencapai 96 jiwa dengan 75 orang hilang, tersebar di 11 kabupaten/kota termasuk Bener Meriah, Aceh Tengah, dan Bireuen.
Sementara di Sumatera Barat, 129 jiwa meninggal dunia dan 118 orang hilang, dengan konsentrasi pengungsi terbesar di Kota Padang dan Kabupaten Pesisir Selatan.
Pencarian Korban
BNPB bersama TNI, Polri, Basarnas, serta pemerintah daerah terus melakukan operasi pencarian, pertolongan, dan distribusi bantuan. Jalur udara menjadi solusi utama untuk menjangkau wilayah terisolasi.
Helikopter BNPB dan TNI dikerahkan untuk mengirimkan sembako, peralatan dapur, BBM, hingga perangkat komunikasi berbasis satelit. Presiden RI juga mengirimkan bantuan berupa tenda, genset, perahu karet, serta ribuan paket makanan instan.
Sejumlah jalur vital di Sumatera Utara, Aceh, dan Sumatera Barat masih terputus. Jalan Tarutung–Sibolga di Sumut, jembatan Meureudu di Aceh, serta ruas Padang Panjang–Sicincin di Sumbar menjadi titik kritis yang menghambat mobilisasi bantuan. Namun akses darat dengan keterbatasan masih bisa di akses, “Secara umum masih bisa dilalui lewat jalur darat,” ungkap Suharyanto.***
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






