ADVERTISEMENT
KORANMANDALA.COM – Gunung Hayli Gubbi di Ethiopia, yang selama lebih dari 12.000 tahun dianggap “mati”, akhirnya meletus pada 23 November 2025. Erupsi ini mengirimkan kolom abu setinggi hampir 15 kilometer ke langit, mengejutkan para ilmuwan dan masyarakat internasional.
Gunung berapi ini terletak di Depresi Afar, bagian dari Zona Rift Afrika Timur, wilayah di mana lempeng Afrika dan Arab perlahan terpisah. Proses tektonik ini menciptakan kondisi bagi magma untuk naik ke permukaan.
Menurut Arianna Soldati, seorang ahli vulkanologi dari North Carolina State University, “Selama kondisi pembentukan magma masih ada, sebuah gunung berapi bisa tetap aktif meski tidak meletus selama ribuan tahun.”, sepeti dikutip dari Scientific American (24/11).
ADVERTISEMENT
Darurat di Semeru: 178 Pendaki Terperangkap di Ranu Kumbolo Usai Erupsi
Gunung Berapi yang Mati 1200 Tahun
Meski catatan sejarah menyebutkan tidak ada erupsi besar selama lebih dari 12.000 tahun, beberapa citra satelit menunjukkan adanya aktivitas kecil seperti keluarnya lava dalam beberapa dekade terakhir.
Hal ini menimbulkan pertanyaan apakah gunung benar-benar “mati” atau hanya tertidur panjang. Juliet Biggs, ahli geologi dari University of Bristol, menegaskan bahwa ia “akan sangat terkejut jika 12.000 tahun benar-benar menjadi erupsi terakhir.”
Erupsi Hayli Gubbi menjadi pengingat bahwa gunung berapi purba tidak pernah benar-benar mati.
Tidak Tercatat Korban Jiwa
Lokasi Hayli Gubbi yang terpencil di Ethiopia membuat erupsi ini tidak menimbulkan korban jiwa langsung. Namun, abu vulkanik yang menyebar ke atmosfer dapat memengaruhi iklim regional dan penerbangan internasional.
Selain itu, erupsi ini membuka peluang penelitian baru tentang bagaimana gunung berapi di Zona Rift Afrika Timur dapat memengaruhi pembentukan samudra baru di masa depan. ***

ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






