Kamis, 26 Februari 2026 22:07

KORANMANDALA.COM –  Setelah empat tahun terhenti akibat pandemi, tradisi unik Festival Perang Tomat di Kampung Cikareumbi, Desa Cikidang, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, kembali menggeliat. Namun, kali ini warga tak sekedar saling lempar tomat, melainkan juga ide dan kreativitas ke dunia digital.

Dari ISBI untuk Cikareumbi

Melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Skema Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat, yang digagas oleh tim dosen Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung, masyarakat Cikareumbi dibekali kemampuan digital untuk mempromosikan tradisi mereka secara mandiri. Kegiatan ini merupakan bagian dari Hibah BIMA 2025 yang didanai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.

Ketua tim pelaksana, Sheila Kurnia Putri, menjelaskan bahwa pelatihan ini bertujuan membekali warga dengan kemampuan digital agar mampu mengelola promosi dan dokumentasi kegiatan budaya secara mandiri.

Pentingnya Mereaktualisasi Nilai-Nilai Budaya Sunda untuk Kemajuan Jawa Barat

“Pelatihan ini bukan hanya soal teknologi, tapi tentang kemandirian warga dalam menjaga budayanya. Melalui pendekatan digital, masyarakat diharapkan dapat menjadikan Festival Perang Tomat sebagai sumber ekonomi kreatif yang berkelanjutan,” ujarnya.

Pelatihan berlangsung pada Agustus hingga September 2025 dan diikuti oleh lebih dari 30 peserta yang terdiri dari pemuda karang taruna, seniman lokal, serta sesepuh desa. Kegiatan dibagi menjadi tiga sesi utama: Literasi Digital dan Media Sosial oleh Sheila Kurnia Putri, Konten Kreatif oleh Shauma Silmi Faza, dan Manajemen Promosi oleh Arif Budiman.

Kisah Tentang Festival Perang Tomat

Festival Perang Tomat pertama kali digagas pada 2011 oleh budayawan Sunda
Mas Nanu Munajar Dahlan (Bah Nanu) sebagai bentuk kreativitas dalam menghadapi anjloknya harga tomat. Tradisi ini kemudian berkembang menjadi simbol syukur dan solidaritas warga, serta daya tarik wisata berbasis komunitas (community based tourism).

Pelatihan digital yang digagas ISBI Bandung disambut positif oleh warga. Sesepuh kampung Cucu menilai kegiatan ini penting agar informasi budaya dikelola langsung oleh masyarakat. Tokoh desa Bah Use menambahkan, kemampuan digital memberi peluang bagi generasi muda untuk memperkenalkan potensi kampung ke dunia luar. “Sekarang anak-anak muda bisa ikut melestarikan budaya, bukan cuma lewat panggung, tapi juga lewat media sosial,” tutur Bah Use, sesepuh Kampung Cikareumbi yang turut mendukung kegiatan ini.

Peningkatan Literasi Digital di Cikareumbi

Selain pelatihan, tim ISBI Bandung juga memberikan dukungan perangkat teknologi seperti router WiFi, mikrofon, flashdisk, serta memasang plang “Mekar Budaya” sebagai penanda destinasi wisata di lokasi festival.

Sheila menegaskan, revitalisasi festival ini bukan sekadar menghidupkan kembali tradisi, tetapi juga membangun kemandirian warga melalui ekonomi kreatif berbasis budaya. “Kolaborasi masyarakat, perguruan tinggi, pemerintah, dan sektor swasta sangat penting agar tradisi ini terus berkembang,” katanya.

Dengan literasi digital, warga Cikareumbi kini siap membawa kearifan lokalnya melampaui batas desa, menjangkau dunia digital yang lebih luas. (*.*)

Menyajikan berita dan konten-konten yang menarik tapi berkualitas dengan bahasa yang lugas. Menuju Indonesia lebih baik.

Exit mobile version