KORANMANDALA.COM – Bayangkan suatu malam yang tenang, langit cerah tanpa awan, dan tiba-tiba sebuah cahaya asing melintas jauh di angkasa.
Bukan bintang jatuh, bukan satelit, melainkan komet antarbintang yang dinamai 3i Atlas, datang dari luar tata surya kita. Komet 3I/ATLAS pertama kali terdeteksi oleh teleskop ATLAS di Chile pada 1 Juli 2025.
Fenomena astronomi ini, menggugah rasa ingin tahu manusia terhadap alam semesta yang luas dan misterius.
Komet Sebesar Manhattan: Fakta Menakjubkan dari 3I/ATLAS
Berdasarkan pengamatan dari teleskop Hubble, inti komet ini diperkirakan berukuran antara 440 meter hingga 5,6 kilometer—setara dengan luas pulau Manhattan di kota New York, Amerika Serikat.
Ukuran ini menjadikannya salah satu objek antarbintang terbesar yang pernah melintasi tata surya kita, setelah 1I/‘Oumuamua dan 2I/Borisov.
Komet ini bergerak dengan kecepatan luar biasa, sekitar 137.000 mil per jam, dan mengikuti lintasan hiperbolik yang menunjukkan bahwa ia tidak berasal dari tata surya kita. Ia hanya akan mendekati matahari pada 30 Oktober 2025, lalu kembali meluncur ke ruang antarbintang.
NASA memastikan bahwa komet ini tidak akan mendekati Bumi lebih dari 170 juta mil, sehingga tidak menimbulkan ancaman langsung.
Dugaan Teknologi Alien: Antara Sains dan Imajinasi
Profesor Avi Loeb, astrofisikawan ternama dari Universitas Harvard, terkait komet antarbintang 3I/ATLAS:
“Objek seperti 3I/ATLAS bisa jadi bukan sekadar batu luar angkasa. Ada kemungkinan bahwa ini adalah teknologi buatan dari peradaban asing. Saya memperkirakan peluangnya sekitar 40 persen,” ujar Loeb dalam wawancaranya yang dikutip oleh berbagai media sains internasional.
Loeb sebelumnya juga dikenal karena teorinya tentang 1I/‘Oumuamua, objek antarbintang pertama yang melintasi tata surya kita pada 2017. Ia menekankan bahwa pendekatan ilmiah harus terbuka terhadap kemungkinan yang belum pernah kita bayangkan, termasuk teknologi alien, selama didukung oleh data observasi yang valid.
Fenomena ini juga memicu teori bahwa nikel mungkin dilepaskan melalui reaksi kimia dengan senyawa organik seperti karbon monoksida, atau bahkan melalui mekanisme teknologi yang belum kita pahami.
Meski banyak astronom menganggap teori ini terlalu spekulatif, diskusi tentang kemungkinan teknologi alien tetap menjadi bagian menarik dari studi objek antarbintang.
Perbedaan Meteor, Asteroid dan Komet
Meteor dan komet adalah dua objek langit yang berbeda. Komet berasal dari wilayah luar tata surya dan terdiri dari es, debu, serta batuan. Saat mendekati Matahari, komet membentuk ekor terang akibat penguapan es. Sebaliknya, meteor adalah kilatan cahaya yang muncul ketika meteoroid—pecahan kecil dari asteroid atau komet—memasuki atmosfer Bumi dan terbakar karena gesekan udara.
Perbedaan utama terletak pada komposisi dan penampakannya. Komet memiliki ekor panjang dan bisa terlihat selama berminggu-minggu, sedangkan meteor hanya tampak beberapa detik sebagai “bintang jatuh.” Komet mengorbit Matahari dalam lintasan sangat lonjong, sementara meteor hanya terlihat saat melintasi atmosfer Bumi.
Perbedaan asteroid dan komet adalah komposisi dan lokasi pembentukan. Asteroid terbuat dari batuan dan logam, sedangkan komet terdiri dari es, debu, dan batuan. Asteroid terbentuk di bagian dalam Tata Surya yang lebih dekat dengan Matahari, sementara komet terbentuk di luar Tata Surya yang lebih dingin.
Pembahasan tentang 3I/ATLAS mulai ramai
Di Indonesia, pembahasan tentang 3I/ATLAS mulai ramai di media daring dan komunitas astronomi. Banyak yang membandingkan komet ini dengan asteroid 1I/‘Oumuamua yang sempat memicu teori serupa pada 2017.
Namun, 3I/ATLAS memiliki ukuran lebih besar dan jejak kimia yang lebih kompleks, sehingga menarik perhatian lebih luas. ***
